Hai hai TemaNda!

Jujur saja, dulu rasanya tidak pernah membayangkan akan menulis tentang dunia content writer. Menulis, buatku, hanyalah kegiatan sampingan. Kadang nulis caption panjang, kadang curhat di blog, kadang cuma menuangkan isi kepala biar terasa lebih ringan. Tidak pernah terpikir kalau aktivitas ini bisa menjadi sesuatu yang lebih serius, apalagi disebut sebagai profesi.

Sampai suatu hari, mulai terasa sering mendengar istilah content writer. Awalnya terdengar keren, tapi juga masih terasa jauh. Di kepala, content writer adalah orang-orang yang tulisannya rapi, penuh istilah, paham SEO, dan seolah tahu semua aturan menulis yang benar. Sementara Manda? Masih sering ragu dengan tulisan sendiri. Takut kepanjangan, takut kependekan, takut nggak penting, takut nggak ada yang baca, takut salah.

Dari situ jadi sadar, mungkin justru banyak orang yang posisinya sama, yaitu penasaran, tertarik, tapi juga minder. Manda nyusun ini bukan sebagai panduan ahli ya. Ini lebih seperti catatan belajar seorang pemula yang masih belajar memahami dunia content writer, pelan-pelan, sambil banyak bertanya dan banyak salah. Tapi yang pasti, mulai berkurang takutnya.

Belajar Jadi Content Writer dari Nol Untuk Pemula


Awal Ketertarikan pada Dunia Content Writer

Ketertarikan pada content writing berawal dari rasa ingin tahu. Awalnya karena sering baca artikel di blog, website, dan media online, lalu bertanya dalam hati, kok bisa ya orang-orang ini menulis dengan rapi dan enak dibaca? Dari situ Manda mulai kepo mencari tahu, gimana sih prosesnya dan siapa yang menulis artikel-artikel itu. Bertepatan juga tuh dengan amanah di komunitas untuk mengurus media sosial dan blog di situ. Jadi belajarnya memang langsung ada lahan untuk digarap.

Ternyata, di balik banyak tulisan di internet, ada peran content writer. Bukan cuma soal menulis panjang atau pendek, tapi menyampaikan informasi dengan cara yang mudah dipahami pembaca. Di titik itu, jadi mulai merasa, “Oh, mungkin ini bukan soal bakat semata, tapi soal belajar.”

Meski begitu, rasa minder tetap ada. Apalagi saat melihat tulisan orang lain yang terlihat profesional. Tapi justru dari situ semakin penasaran dan jadi belajar satu hal penting, semua content writer juga pernah jadi pemula.

Memahami Apa Itu Content Writer 

Di awal, pemahamanku tentang content writer sangat sederhana. Awalnya mengira tugasnya hanya menulis artikel. Ternyata, semakin dibaca dan dipelajari, content writer punya peran yang lebih luas. Ia menulis konten yang punya tujuan, entah itu untuk memberi informasi, edukasi, atau membantu pembaca menemukan jawaban.

Sebagai pemula, jadi mulai memahami bahwa content writer tidak harus selalu menulis dengan bahasa berat. Justru banyak konten yang terasa dekat karena ditulis dengan bahasa manusiawi. Ini sedikit melegakan, karena berarti kita tidak harus menjadi “orang lain” untuk mulai menulis. 

Tantangan di Awal Belajar Content Writing

Belajar menjadi content writer dari nol tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang dari diri sendiri. Seperti tadi diawal Manda bahas ya. Rasa ragu, takut salah, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain tuh sering hadir.

Paling sering juga saat bingung harus mulai dari mana. Apakah dari belajar SEO? Struktur artikel? Atau memperbaiki gaya bahasa? Terlalu banyak informasi justru membuat kewalahan sendiri dan sempat berhenti di tengah jalan.

Selain itu, ada juga ketakutan bahwa tulisanku tidak cukup bagus. Takut dianggap biasa saja. Takut tidak sesuai standar. Tapi perlahan aku belajar, menjadi pemula memang berarti belum sempurna, dan itu tidak apa-apa.

Hal-Hal Dasar yang Pelan-Pelan Dipelajari

Dari proses belajar yang tidak selalu rapi itu, ada beberapa hal dasar yang akhirnya mulai kupahami.

Pertama, konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan. Menulis sedikit tapi rutin terasa lebih berdampak daripada menunggu tulisan “sempurna” yang tidak kunjung jadi.

Kedua, content writer menulis untuk pembaca, bukan untuk pamer kemampuan. Kalimat sederhana justru sering lebih mudah dipahami dan terasa lebih jujur.

Ketiga, membaca tulisan orang lain sangat membantu. Bukan untuk meniru, tapi untuk belajar sudut pandang dan cara menyampaikan ide. Dari situ jadi mulai menyadari, setiap penulis punya gaya masing-masing, dan itu tidak harus sama.

Perkenalan Awal dengan SEO Content Writer

Awalnya, istilah SEO content writer terdengar menakutkan. SEO terasa seperti dunia teknis yang rumit dan penuh aturan. Awalnya malah sempat berpikir, “Ini kayaknya terlalu berat deh buat otak mungilku, kyaaa.”

Namun setelah dipelajari pelan-pelan, SEO ternyata bisa dipahami dari hal-hal dasar. Seperti memilih topik yang relevan, menggunakan keyword secara wajar, dan menyusun artikel dengan struktur yang rapi. Tidak harus langsung mahir, yang penting paham konsep dasarnya.

Di fase ini, malah jadi menemukan beberapa artikel yang membantuku memahami gambaran besar content writing dan SEO dari sudut pandang pemula. Salah satunya adalah panduan lengkap menjadi content writer dari nol, yang menurutku cukup membumi dan tidak terasa mengintimidasi. Dari sana, jadinya mulai melihat bahwa belajar SEO content writer bisa dilakukan bertahap, tanpa harus merasa pintar dulu.

Belajar Tanpa Terburu-Buru

Satu hal yang kini selalu kuingat: tidak ada garis start yang sama untuk setiap orang. Ada yang cepat paham, ada yang perlu waktu lebih lama. Dan itu tidak membuat proses belajarku jadi kurang valid.

Sebagai pemula, Manda memang memilih untuk menikmati proses. Membiarkan diri untuk belajar sambil jalan. Kadang tulisan masih ada yang berantakan, tapi dari situ jadi tahu apa yang perlu diperbaiki.

Manda juga jadi semakin belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri. Bahwa belajar content writing bukan soal cepat-cepat terlihat profesional, tapi soal membangun kebiasaan dan kepercayaan diri.

Masih Pemula, Mulai Melangkah

Sampai di titik ini, Manda masih menganggap diri pemula. Masih banyak yang belum dipahami. Masih sering ragu. Tapi setidaknya, sudah mulai berani melangkah. Mulai berani menulis, mulai berani belajar, dan mulai berani menerima bahwa proses ini tidak instan. 

Menjadi content writer dari nol memang tidak selalu mudah, tapi juga tidak seseram yang dibayangkan di awal. Selama mau belajar dan membuka diri, pelan-pelan jalannya akan terlihat.

Penutup 

Walau masih sering bertanya-tanya, masih kerap ragu, dan kadang masih merasa tulisan belum seutuh yang diinginkan. Tapi justru dari situ jadi belajar berdamai dengan proses. Bahwa tidak semua hal harus langsung jelas arahnya. Ada kalanya kita cukup berjalan pelan, sambil mengenali diri sendiri.

Belajar menjadi content writer dari nol ternyata bukan hanya soal menulis. Ada proses mengenali ritme, membangun kepercayaan diri, dan menerima bahwa setiap orang punya waktu tumbuh yang berbeda. Ada saatnya ketika menulis terasa ringan, ada juga hari ketika satu paragraf pun terasa berat. Dan itu semua bagian dari perjalanan.

Manda mulai menyadari bahwa menulis tidak selalu harus menghasilkan sesuatu yang besar. Kadang cukup menjadi ruang untuk berpikir, untuk menyusun ulang isi kepala, dan untuk jujur pada diri sendiri. Dari situ, pelan-pelan, keinginan untuk terus belajar tumbuh dengan sendirinya.

Entah ke depannya akan sejauh apa langkah ini, belum tau. Tapi untuk sekarang, lebih memilih untuk tetap menulis, tetap belajar, dan tetap membuka ruang bagi proses. Karena mungkin, di situlah maknanya, bukan pada seberapa cepat sampai, tapi pada keberanian untuk terus berjalan.

TemaNda punya cerita serupa? Atau ada keseruan seputar content writer? Kuy ngobrol di kolom komentar!

SHARE 22 comments

Add your comment

  1. Jadi kalau sesuatu itu dbayangkan, justru akan terasa berat dan jadi beban ya Mbak Manda. Termasuk content writer ini. Jadi memang bagusnya dipelajari saja pelan-pelan karena semua butuh proses. Salah satu kuncinya adalah banyak membaca. Semakin terus semangat menulis, maka tulisan kita akan bagus juga.

    ReplyDelete
  2. Skill menjadi seorang content writer itu menurut saya harus diasah dan dilatih supaya menjadi penulis yang baik itulah kenapa harus teliti dan juga benar-benar melengkapi semua kebutuhan dari konten yang ditulis. Dan selain latihan nulis Kita juga harus latihan membaca dan memperbanyak bacaan supaya wawasan lebih luas dan juga memahami apa yang dibutuhkan dari tulisan kita

    ReplyDelete
  3. Aku masih harus banyak belajar belajar dari tmn2 juga . Paling sering tuh kalau nulis suka kepikiran apa penting gak sih akj nulis ini ampe sekrng itu teh ya Allah

    ReplyDelete
  4. Aku juga mulai belajar lagi nih soal content writer yang lebih google-able dan ternyata ada banyak hal yang harus diperbaiki dari tulisanku. Semangat ya, mbak menulisnya!

    ReplyDelete
  5. menjadi content writer memang berliku ya banyak hal yang terus diperbarui mengikuti zaman kayak SEO dll jadi harus belajar terus dan update ilmu baru..

    ReplyDelete
  6. Aku sekarang lagi menemukan passion baruku, Manchiin.. ((menulis resume kajian))
    Dan anak-anakku jadi tutor aku dalam hal ini.. hehehe, secara target audience aku kan anak genji ama gen alpha yaa..
    Jadi memang dunia konten kreator ini terus berkembang dan semoga bisa menjadi ladang pahala meski sudah tiada, nanti.. amiin allhumma amiin.

    ReplyDelete
  7. Jadi content writer itu seru. Aku udah sejak tahun 2010 kayaknya. Zamannnya Anne ahira sampe sekarang. Ngerasain banget gimana jatuh bangunnya. Dari yang 25rb per artikel 300 kata, sampe yang ratusan ribu. Senengnya kalo udah gajian. Tapi susahnya, kalo dikejar deadline. Sehari 10 artikel misalnya. Sampe begadang2 deh. Semangat 💪😁

    ReplyDelete
  8. Aku masih dalam proses belajar jadi content writer kak, harus lebih banyak praktik sih daripada hanya baca teori aja, setidaknya practice make progress

    ReplyDelete
  9. Dulu mengira jadi blogger itu mudah, tinggal nulis di blog. Udah gitu aja. Ga tahu dalemannya bikin pusing juga. Hahaha
    SEO apalagi. Saya mah langsung pasrah deh

    ReplyDelete
  10. Awalnya aku pikir jadi content writer itu mudah tinggal nulis aja tapi ternyata tidak sesimple itu...kita harus pelajari susunan dan pemilihan kata yag tepat dan menarik dan yg gak kalah pentingnya adalah konsistensi dan ini masih menjadi pr banget buat aku krn awalnya pasfi semangat tp ditengah jalan biasanya trus ngedrop gegara kehabisan ide kehabisan kata2 gitu...jd salut bgt buat para content writer yg bisa mwnulis dgn begitu menariknya

    ReplyDelete
  11. Saya bahkan sempat menolak tawaran menjadi content writer karena merasa takut mengecewakan dan belum bisa memenuhi kapasitas yang ideal. Ketakutan yang berlebihan ternyata seperti itu.

    Ini jadi pengalaman banget karena susungguhnya kalau belum dicoba memang seperti menakutkan, padahal kalau sudah masuk dan mengasah diri untuk berusaha profesional, ternyata memang tidak sesulit yang dibayangkan

    ReplyDelete
  12. Memang musuh terbesar pemula itu seringnya rasa minder dan pengen langsung sempurna. Padahal, konten yang "manusiawi" justru yang paling bikin pembaca betah. Senang baca bagian kalau kita nggak perlu jadi orang lain untuk mulai menulis. Semangat terus berprosesnya, Kak! Konsistensi emang kunci, yang penting berani "publish" dulu soal urusan rapi itu sambil jalan. Ditunggu cerita progres berikutnya ya

    ReplyDelete
  13. Wah pas ini, kebetulan daku pun lagi banting setir, pengen fokus membranding diri sebagai Content Writer mbak. Apalagi menurutku ya, content writer ini adalah salah satu job yang gak akan mati dan digantikan oleh AI. Karena segimanapun canggihnya AI, tetep gak bisa menggantikan rasa dan jiwa dalam tulisan yang ditulis oleh manusia.
    Moga aja nanti ini bisa jadi pintu rezeki kita semua yaa. Amiiiin

    ReplyDelete
  14. Terima kasih sudah menulis ini ya. Aku berada di titik belajar berdamai dengan proses menulis. Awal-awal menulis murni hanya ingin berbagi pengalaman dan tanpa sadar ternyata banyak yang dikuatkan.

    Hanya tulisanku tidak banyak yang paham, katanya berat. Sedangkan aku menulis murni apa yang sedang dipikirkan dan di rasa, setelah apa terjadi. Walau banyak yang kurang paham, tetapi tidak sedikit juga yang berharap akan tulisanku, terutama di caption.

    Tetapi akhirnya memang untuk lebih banyak merangkul, perlu untuk lebih banyak belajar. Tidak mudah tetapi untuk hal lebih baik kenapa ga. Kalau soal content writer, sama mba tidak pernah berpikir, hanya namanya dunia internet, ternyata ada di satu fase tulisanku bisa mendatangkan rejeki. Mungkin itu yang di sebut hadiah di tengah proses.

    ReplyDelete
  15. Aku jadi ingat Manda, pertama berkecimpung di dunia SEO itu otodidak karena handle website perusahaan di samping jadi socmed spesialis. Jadinya, mulai ikutan kelas semacam Dewaweb (tahun 2016-an) Kuliah sambil kerja gitu.

    Terkait kepenulisan pun mulai perlahan belajar, emang bener content writer nggak sesederhana yang kita bayangkan. Seringnya kalau kerja di brand bakalan diminta bikin konten tulisan yang soft selling gitu lho dan itu menantang sekali.

    But, emang hidup mesti bertumbuh. Bukan menulis karena hobi doang tetapi mesti mikirin kedepannya dan mengasah serta menantang diri. Semangat terus dalam proses nya keep enjoy ya. Sama-sama belajar yuk.

    ReplyDelete
  16. Saya setuju Mbak Manda... Saya awal ngeblog sudah dari 2008an. Ngeblog saat itu kenal juga dari temen kuliah yang suka nulis fanfic-nya DBSK. Heheh.. terus kenalan tentang blog.

    Pas kuliah tahun itu juga nggak tahu kalau blog bisa di monetize dan sepertinya belum ada seperti sekarang. Pas awal² emang suka nulis random², nggak punya tujuan. Sekedar buat nulis, nyalurin hobi sama share materi kuliah.

    Memang apapun itu, agaknya di awal² sering kali belum ada bentuk apapun tentang content writer ini. Malah bisa jadi melenceng dari gambaran awal. Kita akhirnya harus ditempa dengan ilmu biar makin jelas arahnya. Yukkk, semangat²... 😍😍

    ReplyDelete
  17. Jadi nasihat gereget ini, bahwa belajar nggak perlu Buru-buru, nikmati prosesnya apalagi belajar jadi penulis konten, yang nota bene kepenulisan ini kan buat disajikan ke banyak orang ya, sehingga perlu yang demikian ciamik menyajikannya dengan praktek SEO juga

    ReplyDelete
  18. Pernah jadi content writer buat salah satu website parenting, tapi webnya udah di-shutdown huhu. Cuma waktu itu tanpa SEO2an. SEO-nya aku terapkan di blog, tetapi nggak tahu kenapa tiap ada lowongan SEO content writer masih belum pede haha. Keknya perlu ikutan pelatihan2 lagi biar upgrade ilmu gitu, terutama untuk nulis di platform klien :D

    ReplyDelete
  19. Menulis adalah upaya utk merawat ingatan dan be honest dgn diri kita ya.
    dgn jadi content writer dan ikut pelatihan, bakal makin mantaabbb

    ReplyDelete
  20. Aku nggak pernah bercita-cita jadi content writer. Pengennya tuh jadi penulis novel. Tapi dalam perjalanannya, ternyata sadar nggak sadar mulai belajar juga jd content writer. Walaupun masih sangat-sangat pemula. Belajar SEO aja masih nggak paham-paham 😅

    ReplyDelete
  21. Pada dasarnya, menjadi SEO Writer kurang lebih mirip dengan Content Writer pada umumnya. Yang membedakan adalah tujuan penulisan konten. Konten SEO friendly memang punya gaya bahasa yang tergolong agak kaku, tetapi tetap enak dibaca.

    ReplyDelete
  22. Suka banget sama tulisanmu ini, Mbak. Terasa bijak dan tulus. Bukan cuma ke pembaca, tapi juga ke dirimu sendiri sebagai penulisnya.

    Setuju banget soal “kita tidak harus menjadi orang lain untuk mulai menulis”. Kesadaran itu bikin proses nulis jadi lebih ringan, tentu dengan tetap ada batasan dan niat baik di dalamnya.

    Semangat terus berproses dan bertumbuh sebagai content writer.

    ReplyDelete

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS