Bicara soal kiamat sampah. TemaNda, masih ingat cerita tentang TPA Sarimukti yang mulai kelebihan kapasitas dan membatasi penerimaan sampah? Ketika tempat pembuangan akhir mulai kewalahan, sampah pun ikut menumpuk di berbagai penjuru Kota Bandung. Dari sini kita belajar satu hal sederhana, lahan sebesar apa pun pada akhirnya tidak akan sanggup menampung jutaan sampah yang terus diproduksi setiap hari kalau semuanya hanya berakhir di tempat pembuangan.
Tapi bagaimana kalau ancaman kiamat sampah itu justru bisa kita hadapi dengan cara yang berbeda? Bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi mengubahnya menjadi sesuatu yang punya nilai dan manfaat. Bahkan, dari persoalan sampah kita bisa bergerak menuju cita-cita Kota Bintang Lima Harga Kaki Lima, sebuah gagasan yang terasa menarik tentang kota yang bersih, nyaman, produktif, tetapi tetap terjangkau bagi masyarakat.
Jejak menuju gagasan itulah yang Manda temukan saat mengikuti pemaparan Bank Sampah Induk Bersinar di Spoonful Room Inc D'Botanica Mall, 9 September 2025 lalu . Dengan berbagai program dan arah pengembangan yang terus berjalan secara konsisten, gerakan Bank Sampah Induk Bersinar ini sudah dimulai sejak 27 September 2014 oleh Fifie Rahardja. Lebih dari sekadar tempat mengumpulkan sampah, Bank Sampah Induk Bersinar menunjukkan bahwa ketika sampah dipandang sebagai sumber daya, persoalan yang selama ini dianggap merepotkan ternyata bisa membuka peluang baru.






