ABOUT ALIENDA SOPHIA

Manda (Mama Alienda) adalah seorang Mama dari 3 orang anak, 2 putri cantik dan seorang putra tampan. Putri pertama, Nayyara lahir tahun 2015, dan Mysha lahir tahun 2017, lalu El yang lahir di 2025. Manda lulusan desain interior yang saat ini fokus bekerja dari dalam rumah. Manda kini menikmati kesehariannya, setelah sebelumnya memutuskan berhenti bekerja di ranah publik saat lahir Nayyara di tahun 2015.  Pemilik golongan darah langka (O rhesus negatif-) ini, sangat menyukai hal-hal yang indah dipandang. Kenal lebih dekat si pembelajar visual yang selalu bersemangat menceritakan gempita warna warni yang terekam dalam kepalanya.
Read More
Categories

Hai hai TemaNda!

Balik lagi punya bayi membuat kita suka sering menunda-nunda kegiatan yang berhubungan dengan keluar rumah. Yap, salah satunya adalah ngurus SIM. Entah karena antreannya, waktunya yang suka mepet, atau karena harus bolak-balik fotokopi ini itu. Manda sendiri dulu selalu mikir, “Nanti aja deh, masih lama masa berlakunya.” 

Sampai suatu hari sadar, eh, tinggal hitungan hari. Panik? Jelas.

Untungnya sekarang zaman sudah jauh lebih ramah. Perpanjang atau bahkan buat SIM baru bisa dilakukan secara online lewat aplikasi Digital Korlantas POLRI di HP. Jadi, buat kita yang hidupnya penuh jadwal, ngurus anak, kerjaan, rumah, dan isi kepala, urusan SIM ini sudah nggak perlu lagi jadi drama tahunan.

Di artikel ini, Manda bakal ngajak kita ngobrol santai tapi lengkap tentang cara perpanjang dan buat SIM online, apa saja yang perlu disiapkan, sampai biaya resminya. Biar kita nggak cuma tahu, tapi juga pede pas mulai prosesnya.

Hai hai TemaNda!

Kalau bicara soal kuliner di Bandung, pasti yaa gak pernah habisnya. Tapi kalau kita fokus ke area UPI Kampus Gegerkalong, ada begitu banyak tempat makan dan jajanan yang bukan hanya bikin kenyang  tapi juga bikin bahagia. Dari makanan tradisional yang hangat sampai camilan kekinian yang fotogenik, semuanya ada di sini. Cocok banget kalau kamu lagi merencanakan destinasi wisata keluarga sambil nyobain kuliner lokal.


Hai hai TemaNda!

Ada satu fase dalam hidup kita sebagai orang tua ketika liburan nggak lagi soal pergi jauh atau menyusun agenda padat dari pagi sampai malam. Yang muncul justru pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi krusial, jalurnya ramah stroller nggak, ada tempat duduk buat berhenti sebentar nggak, anak bisa istirahat dengan tenang di mana. Hal-hal kecil yang dulu terasa sepele, sekarang justru jadi penentu apakah sebuah jalan-jalan terasa menyenangkan atau malah bikin lelah lahir batin.

Di fase ini, makna liburan ikut berubah. Kita belajar melambat, menyesuaikan langkah dengan ritme anak, dan lebih selektif memilih tempat, terutama di Bandung yang perlu dipilah soal akses dan kenyamanan. Bukan lagi tentang destinasi viral, tapi tentang ruang yang memberi jeda. Bisa jalan santai, berhenti kapan saja, dan nggak merasa dikejar waktu. Dari situlah, liburan versi kita terasa lebih utuh dan manusiawi.

Hai hai TemaNda!

Jujur saja, dulu rasanya tidak pernah membayangkan akan menulis tentang dunia content writer. Menulis, buatku, hanyalah kegiatan sampingan. Kadang nulis caption panjang, kadang curhat di blog, kadang cuma menuangkan isi kepala biar terasa lebih ringan. Tidak pernah terpikir kalau aktivitas ini bisa menjadi sesuatu yang lebih serius, apalagi disebut sebagai profesi.

Sampai suatu hari, mulai terasa sering mendengar istilah content writer. Awalnya terdengar keren, tapi juga masih terasa jauh. Di kepala, content writer adalah orang-orang yang tulisannya rapi, penuh istilah, paham SEO, dan seolah tahu semua aturan menulis yang benar. Sementara Manda? Masih sering ragu dengan tulisan sendiri. Takut kepanjangan, takut kependekan, takut nggak penting, takut nggak ada yang baca, takut salah.

Dari situ jadi sadar, mungkin justru banyak orang yang posisinya sama, yaitu penasaran, tertarik, tapi juga minder. Manda nyusun ini bukan sebagai panduan ahli ya. Ini lebih seperti catatan belajar seorang pemula yang masih belajar memahami dunia content writer, pelan-pelan, sambil banyak bertanya dan banyak salah. Tapi yang pasti, mulai berkurang takutnya.

Hai hai TemaNda!

Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu ada satu sudut kecil di hati yang baik-baik saja. Karena jujur, akhir-akhir ini Manda merasa hidup berjalan cepat sekali. Rasanya baru saja menutup mata, tahu-tahu hari sudah menuntut banyak hal lagi. Belum sempat benar-benar menarik napas, kita sudah kembali diminta siap.

Ada fase di hidup kita sebagai ibu, ketika capek bukan lagi soal kurang tidur semalam. Capeknya lebih dalam. Capek karena terlalu sering menunda diri sendiri, terlalu sering bilang “nanti”, dan terlalu sering merasa harus bisa semuanya. Kita bangun pagi dengan tubuh yang bergerak otomatis, sementara pikiran sudah lebih dulu lelah.

Sering kali kita tidak sadar, bahwa yang paling jarang kita perhatikan justru diri kita sendiri. Kita cek jadwal anak, cek pekerjaan, cek kebutuhan rumah, tapi lupa mengecek perasaan. Apakah hari ini hati kita baik-baik saja? Atau hanya sedang bertahan?

Di media sosial, keseimbangan kerja dan keluarga sering digambarkan begitu rapi. Ibu produktif, rumah tertata, anak bahagia, pekerjaan jalan. Seolah semua bisa dicapai bersamaan asal kita cukup pintar mengatur waktu. Padahal kenyataannya, hidup tidak selalu ramah pada jadwal.

Ada hari-hari ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, tapi tetap merasa kurang. Kurang hadir, kurang sabar, kurang maksimal. Dan perasaan itulah yang pelan-pelan menggerus kita, kalau tidak diakui.

Tulisan ini Manda buat untuk kontemplasi dan usaha detoks diri karena mulai terasa overload. Tulisan ini Manda umpamakan sebagai ruang kecil untuk kita duduk sebentar, saling mengangguk, dan berkata dalam hati, oh, ternyata aku tidak sendirian.

 Hai hai TemaNda

Belakangan ini rasanya kata liburan nggak lagi soal rebahan manis di hotel atau foto cantik buat media sosial. Buat Manda, liburan sekarang lebih sering jadi tentang pengalaman, kenangan, dan cerita yang nantinya akan terus diingat anak-anak. Terlebih setelah punya tiga anak, definisi liburan pun ikut berubah. Bukan lagi soal nyaman atau mewah, tapi tentang kebersamaan dan keberanian mencoba hal baru, meski penuh tantangan.

Pernahkah kalian mencoba kamping di pinggir pantai? 

Buat Manda ini sebuah hal yang sangat baru, dengan kondisi beranak tiga tentunya, kalau kamping masa sekolah kan beda.

Kamping di pinggir pantai sendiri merupakan salah satu bentuk wisata alam yang menawarkan pengalaman unik dan berkesan. Berbeda dengan menginap di hotel atau penginapan, kamping memberikan kesempatan bagi seseorang untuk hidup lebih dekat dengan alam, merasakan suasana yang alami, serta melepaskan diri dari rutinitas dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Pantai, dengan keindahan laut, pasir, dan langit terbuka, menjadi lokasi pilihan bagi orang yang ingin berkemah sambil menikmati sensasi yang cukup menantang.

Hai hai TemaNda

Punya rumah pertama itu rasanya campur aduk. Antara senang, haru, sekaligus deg-degan. Apalagi saat masuk ke fase serah terima rumah, di mana kita resmi menerima bangunan yang selama ini cuma kita lihat dari brosur atau rumah contoh. Di tahap ini, kita bukan cuma datang, terima kunci, lalu pulang dengan senyum lebar. Ada banyak hal penting yang perlu diperhatikan supaya rumah pertama benar-benar siap ditinggali tanpa masalah di kemudian hari.

Biar nggak bingung dan nggak ada yang terlewat, yuk kita bahas satu per satu tips serah terima rumah pertama, lengkap sampai urusan pajak seperti cara menghitung PBB, plus sedikit gambaran soal kawasan hunian yang nyaman dan layak dipertimbangkan.

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS