Hai hai TemaNda!

Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu ada satu sudut kecil di hati yang baik-baik saja. Karena jujur, akhir-akhir ini Manda merasa hidup berjalan cepat sekali. Rasanya baru saja menutup mata, tahu-tahu hari sudah menuntut banyak hal lagi. Belum sempat benar-benar menarik napas, kita sudah kembali diminta siap.

Ada fase di hidup kita sebagai ibu, ketika capek bukan lagi soal kurang tidur semalam. Capeknya lebih dalam. Capek karena terlalu sering menunda diri sendiri, terlalu sering bilang “nanti”, dan terlalu sering merasa harus bisa semuanya. Kita bangun pagi dengan tubuh yang bergerak otomatis, sementara pikiran sudah lebih dulu lelah.

Sering kali kita tidak sadar, bahwa yang paling jarang kita perhatikan justru diri kita sendiri. Kita cek jadwal anak, cek pekerjaan, cek kebutuhan rumah, tapi lupa mengecek perasaan. Apakah hari ini hati kita baik-baik saja? Atau hanya sedang bertahan?

Di media sosial, keseimbangan kerja dan keluarga sering digambarkan begitu rapi. Ibu produktif, rumah tertata, anak bahagia, pekerjaan jalan. Seolah semua bisa dicapai bersamaan asal kita cukup pintar mengatur waktu. Padahal kenyataannya, hidup tidak selalu ramah pada jadwal.

Ada hari-hari ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, tapi tetap merasa kurang. Kurang hadir, kurang sabar, kurang maksimal. Dan perasaan itulah yang pelan-pelan menggerus kita, kalau tidak diakui.

Tulisan ini Manda buat untuk kontemplasi dan usaha detoks diri karena mulai terasa overload. Tulisan ini Manda umpamakan sebagai ruang kecil untuk kita duduk sebentar, saling mengangguk, dan berkata dalam hati, oh, ternyata aku tidak sendirian.

Bertahan di Tengah Peran yang Tak Pernah Libur


Keseimbangan Kerja dan Keluarga

Banyak yang membayangkan keseimbangan kerja dan keluarga sebagai pembagian waktu yang adil, yaitu misalnya delapan jam kerja, delapan jam keluarga, delapan jam istirahat. Padahal kenyataannya, hidup tidak pernah sesederhana itu.

Keseimbangan bukan soal waktu yang sama rata, tapi soal kesadaran kapan harus memilih prioritas dan kapan harus bertahan. Ada hari ketika pekerjaan mengambil porsi lebih besar, dan ada hari ketika keluarga menjadi prioritas penuh. Keseimbangan itu cair, berubah-ubah, dan sering kali baru kita sadari setelah melewati hari yang melelahkan.

Masalahnya, kita sering merasa bersalah setiap kali satu peran terasa kurang maksimal. Padahal, rasa bersalah itu tidak selalu tanda kita gagal, sering kali itu tanda kita peduli.

Realita Ibu Bekerja dan Keluarga

Menjadi ibu bekerja bukan hanya soal membagi waktu, tapi juga membagi energi dan emosi. Ada kelelahan yang tidak selalu terlihat, tapi menetap di badan. Ada rasa bersalah yang datang diam-diam, terutama saat kita merasa tidak cukup hadir.

Di satu sisi, pekerjaan memberi kita ruang untuk berkembang, merasa bernilai, dan tetap menjadi diri sendiri. Di sisi lain, keluarga, terutama anak, membutuhkan kehadiran yang utuh, bukan sekadar fisik, tapi juga perhatian.

Di tengah semua itu, kita jarang bertanya pada diri sendiri. "Apakah aku masih punya ruang untuk bernapas?"

Burnout pada ibu bekerja sering kali datang tanpa tanda yang terlihat jelas. Bukan ambruk seketika, tapi hasil dari lelah yang menumpuk, emosi yang mudah tersulut, dan perasaan kosong meski hari terasa penuh.

Saat Keseimbangan Itu Retak

Ada masa ketika semuanya terasa tidak berjalan. Pekerjaan terasa menekan, rumah terasa berisik, dan kita sendiri merasa tersisih dari hidup yang sedang dijalani. Di titik ini, banyak ibu memilih diam. Menjalani hari dengan autopilot, karena tidak tahu harus mengeluh ke siapa.

Kita lupa bahwa kelelahan tidak selalu harus diselesaikan dengan solusi besar. Kadang, kelelahan hanya ingin diakui.

Bahwa iya, ini tuh memang berat.

Bahwa iya, kita memang sedang capek.

Dan itu wajar.

Cara Menjaga Keseimbangan Kerja dan Keluarga 

Ini bukan soal menata waktu agar semua jadwal sempurna, tapi dengan langkah-langkah kecil yang lebih manusiawi.

Pertama, turunkan standar.

Tidak semua harus rapi, tidak semua harus selesai hari ini. Rumah yang berantakan tidak menentukan kualitas kita sebagai ibu.

Kedua, berhenti merasa harus selalu kuat.

Mengaku lelah bukan tanda lemah. Justru itu bentuk kejujuran pada diri sendiri. Tanda kita cukup berani menyadari keadaan dengan besar hati.

Ketiga, minta bantuan tanpa rasa bersalah.

Baik pada pasangan, keluarga, atau bahkan pada anak. Mengajarkan anak melihat ibunya sebagai manusia juga bagian dari pengasuhan. Tidak apa untuk menunjukan kekuranganmu. Kamu manusia.

Keempat, sisakan ruang kecil untuk diri sendiri.

Tidak harus lama. Kadang hanya sepuluh menit duduk tanpa distraksi sudah cukup untuk menata ulang kepala. Bila kamu merasa jauh atau kurang yakin, kembalilah untuk ingat hari di mana-mana kebaikan dan pertolonganNya hadir begitu nyata dan terasa. Ingat kembali betapa banyak keindahan yang bisa kita syukuri, dan kita akan tersadar bahwa tidak pernah sendirian menjalani semua ini.

Cara menjaga keseimbangan kerja dan keluarga bukan soal trik cepat, tapi soal keberanian untuk lebih ramah pada diri sendiri.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Di usia dan fase hidup kita sekarang, mungkin yang paling kita butuhkan bukan lagi nasihat panjang, tapi pengakuan yang jujur. Bahwa menjalani peran sebagai ibu, pasangan, sekaligus individu bukan hal ringan. Bahwa merasa lelah tidak membuat kita gagal. Itu hanya tanda bahwa kita sedang hidup sepenuh itu.

Sering kali kita menunggu momen tenang yang sempurna untuk merasa bahagia. Menunggu pekerjaan lebih stabil, anak lebih besar, kondisi lebih rapi. Padahal hidup jarang memberi jeda yang benar-benar kosong. Justru di sela-sela kekacauan itulah, kita belajar berdamai.

Berdamai dengan rumah yang kadang berantakan. Berdamai dengan pekerjaan yang naik turun. Berdamai dengan diri sendiri yang tidak selalu kuat, tidak selalu sabar, dan tidak selalu tahu jawabannya.

Keseimbangan kerja dan keluarga mungkin tidak pernah hadir dalam bentuk lurus dan simetris. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil. Dalam keberanian berkata “cukup” hari ini. Dalam kesediaan memaafkan diri sendiri saat merasa kurang. Dalam memilih istirahat tanpa merasa bersalah.

Jika hari ini kita masih bisa bangun, mengurus yang perlu diurus, dan tetap berusaha meski tertatih, atau sambil "Ya Allah Ya Allah", dan itu sudah bentuk keseimbangan versi kita. Tidak harus sama dengan versi orang lain.

Saat memang burnout dan butuh relaksasi ya cobalah perawatan diri, seperti saran Kak Dian Restu Agustina.

Dan kalau suatu hari kita merasa kehilangan arah, tidak apa-apa berhenti sebentar. Menyandarkan lelah. Mengingat kembali bahwa kita tidak berjalan sendirian. Ada keluarga, ada pasangan, ada anak-anak, dan ada Sang Maha Kuasa yang selalu memberi ruang untuk kembali pulang. Yang senantiasa memberi kemudahan dalam setiap kesulitan.

Pelan-pelan saja. Kita tidak sedang berlomba. Kita sedang menjalani hidup.

Dan itu, apa pun bentuknya hari ini, sudah layak dihargai. Yuk bareng-bareng lebih kenali diri kita. Dan terima keadaan diri kita. Karena kalau bukan diri kita sendiri yang menghargai, siapa lagi?

TemaNda punya pengalaman serupa tentang keseimbangan hidup? Atau punya pendapat lain? Yuk ngobrol di komentar!

SHARE 13 comments

Add your comment

  1. Maksud hati ingin seimbang tetapi kenyataannya tidak semanis yang diharapkan, setidaknya itu yang kurasakan mbak. Jiwa femininku berteriak sehingga akhir minggu total untuk keluarga entah food prep atau bersantai dengan kiddos, mengabaikan pekerjaan. Walaupun kadang masih harus kontrol kerjaan karena part of job kan ya. Setidaknya mereka tetap merasa bahwa mereka tetap prioritas. Apalagi saat ini aku sudah tidak mengejar karir apapun, hanya menjalani hingga masa pensiun

    ReplyDelete
  2. Aku inget zaman msh kerja. Memang ga ada waktu utk keluarga mba. Pergi jam 5 subuh, pulang jam 8 malam. Sampe rumah kdg jam 10.

    Jadi masa2 itu, memang anak diasuh oleh babysitter dari bayi sampai 7 tahun. Tp Alhamdulillah, babysitter mereka baiiik banget, dan anak2 tumbuh JD pribadi yg baik, ga nakal. Utk itu aku memang berterimakasih bangetttt dengan si mbak.

    Tp akhirnya aku yg nyerah. Resign lah dari kantor. Timingnya pas, Krn saat itu covid pula. Setelah resign, baru deh ngerasain bareng anak2. Lebih banyak waktu jadinya. Dan me time ku yg biasa traveling jadi lebih leluasa, Krn ga terikat cuti kantor.

    ReplyDelete
  3. Tugas seorang ibu memang berat. Apalagi bagi ibu yang bekerja juga. Harus bisa membagi waktu dan diri bagi keluarga. Jadi setuju sekali, bukan soal berapa waktu dan lamanya, tapi mana prioritas dulu. Terus jangan lupa me time bagi diri sendiri juga.

    ReplyDelete
  4. Sebagai ibu bekerja aku lagi dalam fase ini nih capek banget badan rasanya padahal kerja juga cuma duduk aja. Kayaknya bukan cuma soal fisik tapi soal mental juga nih capeknya dan kadang kalau bisa istirahat sejenak itu lumayan mengurangi rasa lelahnya

    ReplyDelete
  5. Iya menjadi ibu bekerja dan harus mengurus keluarga memang double banget capeknya ya salut yang bisa menjalani keduanya dengan baik butuh manajemen waktu dan daya tahan tubuh yang kuat..

    ReplyDelete
  6. Aku dulu ketika single emng kerja ya teh setelah nikah aku resign , karena suami memng minta yes dirumah aja. Suami aku tahu aku suka ambil job free lance hehe

    Yg terasa direalitanya aku cukup termenej sih soal waktu walau terkadang ada yg tidak sesuai itu kuampuni , aku bukan orng sempurnA pun suami, pun dengan keluarga kami.

    Memang tidak akan ada yg seimbang ya teh so aku coba bersikap yaudahlah hehe

    ReplyDelete
  7. Naah, relaksasi ini saya suka banget. Di tengah kesibukan rumah dan pekerjaan saya merasa harus mengambil waktu jeda. Biasanya yaa pergi ke spa relaksasi disana. Jadi fresh lagi, siap tempur lagii,,,,hehe

    ReplyDelete
  8. Kalau dipikirkan iya juga Kak Al, kita tuh kayak sibuk aja mikirin orang terdekat, tapi kok minim buat engehin diri, lagi baik² aja atau nggak.
    Sepertinya daku perlu nih mulai ceki² diri lagi, alias menata hati tssaah. Biar jadi kebiasaan baik, yang nantinya pas berkeluarga udah terbiasa untuk melihat diri juga, "apakah aku dalam keadaan oke?"

    ReplyDelete
  9. Menurutku setiap fase hidup, baiknya ya dijalani aja mbak. Nggak mesti disyukuri, nggak haram dikeluhkan pula. Apapun itu, jalani aja. Karena kelak pasti ada hikmah yang tersimpan.
    Dulu pas istriku kerja, anakku sempet masuk ke Daycare. Tiap balik dari daycare, malemnya jemput istri di stasiun LRT. Untungnya daycarenya amanah yaa, jadi Putri pun senang dan bahkan suka minta balik lagi.
    Sekarang istri di rumah, lebih banyak waktu sama anak. Tapi ya malah banyak bibit2 keributan juga sama anak, hahaha. Overstimulate, ceunah.
    Gapapa kalo sesekali capek. saya pun begitu. paling yaudah, istirahat aja. Dilanjut besok lagi. gak tiap hari mesti berakhir sempurna.

    ReplyDelete
  10. Keseimbangan tuh emang penting banget mbak. Cuma ya sekali lagi.. rasanya ada aja yang bikin dunia ini seperti meledakkk.. #ciaatt.. 😅😅

    Saya setuju banget sama point²nya. Terutama yang nomor dua, kayak misal nggak minta tolong ke siapapun bukan berarti tanda bunda² atau siapapun itu lemah. Karena banyak sekali di sekitarku (bunda²) yang enggak minta tolong karena dia seorang ibu dan takut dibilang lemah gitu. Padahal ya nggak bisa gitu.. 🥲

    ReplyDelete
  11. Kalau naik KRL gitu aku sering ketemu ibu2 pekerja, pastinya nggak mudah tu menyeimbangkan waktu, apalagi mengelola emosinya. Makanya salut banget buat ibu pekerja yang hubungan sama keluarganya bagus, rumahnya terawat hehe.
    Pastinya nggak mudah karena kebayangnya stress-nya double2.
    Tapi emang sih, sebaiknya kalau nggak kuat jangan ragu lha ya minta bantuan, entah dari keluarga atau hire asisten buat bantu kerjaan di rumah. Risikonya memang mau nggak mau harus menurunkan standar sih ya. Tapi nggak pa pa demi menjaga kewarasan diri :D

    ReplyDelete
  12. Menjalani kehidupan seorang ibu rumah tangga itu pasti penuh dinamika pastinya, apalagi kalau harus berhadapan antara dunia kerja dan keluarga. Di keluarga kami pun, saya dan istri sama-sama bekerja, mengajar. Maka saya pun tak pernah menuntut pekerjaan rumah menjadi paripurna, yang ada adalah kita saling bantu dan saya sendiri tak canggung untuk melakukan aktivitas seperti mencuci dan menyetrika agar istri pun punya ruang untuk me time

    ReplyDelete
  13. Aku menyoroti cara menjaga keseimbangan kerja dan keluarga no 2, tentang berhenti merasa harus selalu kuat. Kalau dalam teori NS, tidak ada yang harus dan mesti dalam hidup. Apalagi soal kekuatan diri. Kadang lemahpun perlu untuk merasa diri butuh di rangkul.

    Aku tuh sungkem banget sama Ibu yang bekerja dan bertanggung jawab dengan keluarga. Mengurus keluarga itu sesuatu yang sangat berat. Butuh emosi yang stabil karena ada saja hal-hal diluar nalar bisa terjadi. Apalagi kalau anak-anak masih kecil. Komplit berjuangannya.

    Banyak doa baik para ibu yang menjaga keseimbangan kerja dan keluarga. Setuju banget untuk tulisan ini, terutama sediakan waktu untuk diri sendiri ya. Walau secepat apapun waktu mengejar.

    ReplyDelete

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS