Hai hai TemaNda!

Pernah gak sih terpikir ke mana perginya sampah setelah keluar dari rumah? Setiap hari dalam aktivitas harian kita, kita terbiasa membuang sisa makanan, botol plastik, kardus belanja online, hingga kemasan berbagai produk. Jangankan begitu, baru saja tadi saat kami sekeluarga olah raga sore, gak sengaja lihat tumpukan sampah yang belum dipilah menggunung di sekitar tanah lapang dekat rumah. Yang begitu nantinya kantong sampah diangkut petugas, dirasa urusan sudah selesai. Padahal, perjalanan sampah justru baru dimulai.

Cara pandang inilah yang perlahan mulai berubah melalui konsep Ekonomi Sirkular Indonesia. Berbeda dengan pola lama yang menganggap sampah sebagai akhir dari sebuah produk, ekonomi sirkular melihat sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diolah kembali menjadi bahan baku, produk baru, bahkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Bagi Manda, konsep ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai ibu rumah tangga, jumlah sampah yang dihasilkan dari aktivitas di rumah ternyata gak sedikit. Mulai dari sisa sayuran, botol air minum, kardus paket, hingga berbagai kemasan plastik. Selama ini mungkin kita hanya fokus membuangnya, tanpa menyadari bahwa sebagian besar masih memiliki manfaat jika dipilah sejak awal.

Inilah mengapa perubahan besar sebenarnya dapat dimulai dari rumah.


Memulai ekonomi sirkular


Memilah Sampah Adalah Langkah Sederhana yang Berdampak Besar

Banyak orang menganggap memilah sampah adalah pekerjaan yang merepotkan. Padahal, kebiasaan ini justru menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, logam, dan kardus masih memiliki nilai ekonomi apabila disalurkan melalui pengelolaan yang tepat. Ketika masyarakat mulai memilah sampah dari sumbernya, proses daur ulang menjadi jauh lebih mudah dan efisien.

Lebih dari itu, kebiasaan sederhana ini juga mengajarkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Kita bukan lagi sekedar membuang, tapi juga ikut memikirkan bagaimana limbah tersebut dapat dimanfaatkan kembali.

Ketika Sampah Menjadi Peluang Ekonomi

Selama bertahun-tahun, banyak orang memandang sampah sebagai masalah. Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah justru dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

Melalui sistem bank sampah, masyarakat dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah untuk kemudian ditimbang dan dihargai sesuai jenisnya. Nilai tersebut dapat ditabung maupun dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Konsep seperti ini menjadi salah satu contoh nyata penerapan ekonomi sirkular. Barang yang sebelumnya dianggap kurang berguna kembali memiliki nilai ekonomi dan jadinya gak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.

Pendekatan tersebut juga membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat.

Gerakan yang Tidak Hanya Berbicara Soal Sampah

Saat membahas pengelolaan sampah, banyak orang langsung membayangkan aktivitas mengumpulkan botol plastik atau kardus bekas. Padahal, ruang lingkup ekonomi sirkular jauh lebih luas.

Pengelolaan sampah dapat terhubung dengan pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian. Hasil pertanian kemudian kembali dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga terbentuk sebuah siklus yang saling mendukung.

Inilah alasan mengapa gerakan pengelolaan sampah saat ini bukan lagi sekadar berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga pada pembangunan masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Sampah Jadi Berkah
Sampah Jadi Berkah (Sumber: Dokumentasi Bank Sampah Bersinar)


Oxbow dan Harapan Membangun Living Laboratory

Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah pengembangan kawasan Oxbow sebagai Living Laboratory Ekonomi Sirkular.

Konsep laboratorium hidup ini menghadirkan tempat di mana masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana pengelolaan sampah dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari proses penerimaan, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan hasilnya untuk mendukung sektor lain seperti pendidikan, pertanian, maupun pemberdayaan ekonomi.

Kehadiran kawasan seperti ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, hingga masyarakat umum agar praktik ekonomi sirkular tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah Memiliki Peran Penting

Menanamkan kebiasaan peduli lingkungan akan lebih mudah jika dimulai sejak anak-anak. Ini juga kami rasakan di rumah. Bahkan Nayyara dan Mysha setelah belajar penanganan sampah, sudah mulai jadi polisi di rumah sendiri. Justru jadi mengingatkan yang perlu dilakukan. Harapannya tentu istiqomah sampai besar nanti.

Ketika sekolah mengajarkan cara memilah sampah dan mengenalkan konsep ekonomi sirkular, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun kebiasaan baik yang dapat dibawa hingga dewasa.

Bahkan, keberadaan Bank Sampah Unit di lingkungan sekolah dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan. Anak-anak dapat melihat secara langsung bahwa botol plastik, kertas, atau kardus yang mereka kumpulkan ternyata memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali.

Pengalaman seperti ini akan membuat pendidikan lingkungan terasa lebih nyata daripada sekadar membaca teori di dalam buku.

Kolaborasi Menjadi Kunci Perubahan

Persoalan sampah tentunya sulit bila hanya diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah memiliki peran penting, tetapi dukungan dari masyarakat, sekolah, dunia usaha, akademisi, komunitas, serta media juga sangat dibutuhkan.

Kolaborasi seperti inilah yang menjadi semangat dalam gerakan Pentahelix Indonesia Bersinar. Ketika berbagai pihak bekerja bersama, perubahan yang dihasilkan akan jauh lebih besar dibandingkan jika berjalan sendiri-sendiri.

Media membantu menyebarkan edukasi, sekolah membentuk kebiasaan baru, komunitas menggerakkan masyarakat, dunia usaha menghadirkan inovasi, sedangkan pemerintah mendukung melalui kebijakan. Semua memiliki peran yang saling melengkapi.

Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar.

Kolaborasi Menjadi Kunci
Kolaborasi Menjadi Kunci  (Sumber: Dokumentasi Bank Sampah Bersinar)


Perubahan Selalu Dimulai dari Langkah Kecil

Mungkin kita belum bisa langsung mengubah kondisi lingkungan dalam waktu singkat. Namun, kita selalu bisa memulai dari kebiasaan sederhana di rumah.

Memisahkan sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memanfaatkan kembali barang yang masih layak digunakan, hingga mengenalkan kebiasaan tersebut kepada anak merupakan langkah kecil yang jika dilakukan bersama akan memberikan dampak besar.

Pada akhirnya, ekonomi sirkular bukan hanya tentang mengelola sampah. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap sumber daya sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak terbuang sia-sia. Ketika masyarakat mulai melihat sampah sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai, kita sedang membangun masa depan yang lebih bersih, lebih berdaya, dan lebih berkelanjutan.

Perubahan memang tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Sering kali, perubahan lahir dari keputusan sederhana di rumah: memilih untuk memilah sampah sebelum membuangnya. Dari langkah kecil itulah harapan menuju Ekonomi Sirkular Indonesia dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan, masyarakat, serta generasi yang akan datang.

"Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar."


SHARE 41 comments

Add your comment

  1. Sekarang banyak sekali pemanfaatan sampah yg bisa dilakukan untuk sampah organik bisa diolah sebagai kompos sedang sampah anorganik malah lebih luas lagi pemanfaatan nya dan semua bisa dimulai dr lingkungan terkecil kita yaitu sampah rumah tangga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Kalau kita mau konsisten justru kita yang bisa jadi inisiator pembuka bank sampah di lingkungan sendiri
      Semakin bersih lingkungan semakin banyak manfaatnya dari sampah yang ada dan kita pilah

      Delete
  2. Dengan memilah sampah, jadi tahu mana yang bisa dimanfaatkan lagi, dan siapa sangka malah punya nilai manfaat yang lebih alias cuan. Oleh karenanya pilah sampah memang harus digalakkan

    ReplyDelete
  3. Kebiasaan sederhana dengan memilah sampah di rumah, ternyata bisa menjadi penggerak ekonomi sirkular ya
    Sampah yang sudah dipilah akan mudah diolah. Olahannya bisa menjadi barang yang bernilai ekonomis

    ReplyDelete
  4. Umma juga mulai nih menerapkan pemilihan sampah karena menyadari betapa dahsyatnya jika ini diterapkan seluruh rumah di Indonesia

    ReplyDelete
  5. Keren banget nih keluarga udah sadar soal pengolahan sampah dan mendukung ekonomi sirkular, ya. Moga konsisten dan nular ke yang lain

    ReplyDelete
  6. Ya perubahan itu dimulai dari hal kecil dulu, dengan jangkauan terdekat pula seperti anak keluarga lalu lingkungan tempat sekitar seperti tetangga
    Selanjutnya dengan semakin meningkatnya kekompakan insyaallah akan semakin ok n meluas dan target kemungkinan mudah tercapai
    Sadar memilah sampah dari rumah memang kuncinya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju banget, mbak. lingkungan rumah dan sekolah selayaknya menjadi salah satu tempat pertama untuk sosialisasi terkait pengolahan sampah ini ya, mbak. jika anak-anak dan keluarga sudah terbiasa dalam mengelola sampah insyaAllah juga ke depannya bisa lebih mudah pengelolaan sampah di tempat kita

      Delete
  7. keren banget ini rencana oxbow living laboratorary ini yang pastinya bisa menjadi wadah edukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah yang juga bisa berdampak pada ekonomi sekitar ya, mbak

    ReplyDelete
  8. Bener yaa kak. Perubahan itu bisa dimulai dari langkah kecil, sesederhana memilah sampah atau bahkan mengurangi penggunaan wadah/plastik sekali pakai. Kalau hal demikian dilakukan serentak oleh banyak orang, percaya deh pasti berasa perubahannya

    ReplyDelete
  9. Kadang kita merasa tugas selesai begitu sampah diangkut, padahal perjalanan panjangnya baru mulai.
    Keren banget Mbak Manda bisa menularkan kebiasaan ini ke Nayyara dan Mysha sampai mereka jadi "polisi sampah" di rumah. Salut! Memang harus dimulai dari lingkup terkecil dulu.
    Semoga konsep Living Laboratory di Oxbow dan kolaborasi Pentahelix ini berjalan sukses ya, biar urusan daur ulang makin terasa dampaknya buat lingkungan dan ekonomi warga.

    ReplyDelete
  10. Kebiasaan kecil, tapi berdampak besar bagi pengelolaan sampah. Mungkin awalnya hanya memilah sampah saja, tetapi melalui pengelolaan sampah yang tepat, sampah justru menjadi value yang tinggi dan berimbas pada perekonomian masyarakat. Gokil sih keren banget

    ReplyDelete
  11. Saya bermimpi di Indonesia kesadaran akan lingkungan akan membaik. Saya percaya semua dimulai dari membangun kebiasaan dari rumah tangga dan dimasukkannya pendidikan lingkungan ini ke dalam kurikulum sekolah sejak dini. Anak - anak diajarkan malu jika membuang sampah sembarangan. Di rumah anak - anak diajarkan untuk memilah sampah, menghemat air dan listrik. Begitupun di sekolah. Sepertinya tidak mengadakan ada kalau pendidikan peduli akan kelestarian lingkungan dijadikan mata pelajaran sekolah.

    ReplyDelete
  12. Keren nih bahasannya
    Setuju pokoknya... Kalau pada akhirnya, ekonomi sirkular bukan hanya tentang mengelola sampah. Tapi lebih dari sekadar itu ya...

    Konsep daur ulang tersebut mengajarkan pada kita bahwa setiap sumber daya sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak terbuang sia-sia.

    Ketika masyarakat mulai melihat sampah sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai, kita sedang membangun masa depan yang lebih bersih, lebih berdaya, dan lebih berkelanjutan.

    ReplyDelete
  13. Memilah sampah salah satu kegiatan yang memang harus dilakukan oleh setiap orang. Supaya TPA tidak makin menumpuk dan dengan memilah sampah ada banyak peluang ekonomi juga.

    Keren banget nih kawasan Oxbow sebagai Living Laboratory Ekonomi Sirkular, membuat sampah nggak jadi beban di TPA tetapi menciptakan peluang ekonomi yang baik untuk kehidupan.

    Dari sekolah, keluarga, dan orang-orang udah harus lebih care sama penanganan sampah yang cerdas. Bukan berhenti di TPA dan jadi masalah baru. Nice sharing mbak.

    ReplyDelete
  14. Di tempat saya belum ada gerakan seperti ini,,tapi saya sudah memulai memilah sampah plastik dari rumah. Sampah² plastik ditempatkan di wadah sendiri..nanti suka ada yang ambil. Tinggal simpan saja di depan rumah. Di sekolah juga sudah mulai memisahkan sampah palstik dan sampah organic dan anorganic..semoga semua ininadalah awal yang baik untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih. Program bank sampahnya bagus banget ini patut dikembangkan dan didukung oleh semua pihak.

    ReplyDelete
  15. Aku setuju kalau perubahan soal lingkungan memang sebaiknya dimulai dari kebiasaan kecil di rumah. Kadang kita merasa tindakan satu orang terlalu kecil untuk memberi dampak, padahal kalau dilakukan rutin pasti jumlah sampah yang bisa dikurangi juga lumayan. Mulai dari membawa tas belanja sendiri, mengurangi barang sekali pakai, sampai memilah sampah sebenarnya sudah bisa jadi langkah sederhana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebiasaan kecil tapi memberi dampak besaar pada lingkungan. Di rumah menyediakan tempat sampah terpisah organic dan anorganic. Sampah plastik pisahkan dan dikumpulkan untuk didaur ulang sehingga menghasilkan peluang ekonomi.

      Delete
  16. Gerakan ekonomi sirkular sangat baik sekali dan harus diimplementasikan di seluruh wilayah. Mengubah perilaku manusia memang tidak mudah. Urusan memilah sampah organik, non organik dan residu dari rumah butuh effort tinggi kalau belum terbiasa. Dukungan RT RW dan kelurahan serta kecamatan setempat harus ada tentunya. Sampah bisa bernilai jual ekonomis setelah didaur ulang sehingga masyarakat bisa menghasilkan uang dari sampah.

    ReplyDelete
  17. Sebagai warga masyarakat, kita perlu memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan ya. Caranya bisa dimulai dari memilah sampah rumah tangga, sebelum dibuang atau diproses lebih lanjut

    ReplyDelete
  18. Pas belum kenal bank sampah, kalau nggak salah pas SMP, dulu tuh mikir masalah sampah tuh masalah receh mbak. Baru setelahnya pas SMA, aku kenalan sama bank sampah dan kebetulan alm. bapak punya usaha mengepul barang-barang bekas buat dibawa ke pabrik. Setelah sering bantu bapak di gudang pengepulan, aku jadi sadar kalau ekonomi sirkular memang bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mengurangi belanja yang tidak perlu.

    Dan gerakan ekonomi sirkular ini nggak cuma nggerakin ekonomi rakyat lho, tapi juga salah satu cara di lingkup terkecil buat peduli lingkungan. :)

    ReplyDelete
  19. Aku sendiri udah milah2 mba, sampah sisa dapur, sampah anorganik, sampah kimia kayak batre dll. Masalahnya, di tukang sampah. Ga paham lah Ama JKT ini. Waktu itu udh ada aturan baru, kalau per 1 Agustus semua sampah wajib dipilah.

    Eh tapi ini tukang sampah masih aja nyatuin semuanya pagi pas diambil 🤣🤣🤣.

    Jadi aku ga ngerti, itu aturan beneran jalan atau ga 😢.

    Pengen banget Indonesia bisa JD negara yg bener2 mengolah sampah dengan bener dan rapi kayak negara maju. Pakai truk sampah yg sudah dilengkapi alat menghancurkan. Tapi ga tahulah kapan bisa terlaksana..Krn butuh kerjasama semua pihak dr lingkungan rumah pastinya.

    Di lingkungan ku RT nya ga aktif. JD masalah sampah ini masih suka2 warga 😢. Tp aku tetep selalu pilah dulu

    ReplyDelete
  20. Keren nih, Oxbow Living laboratory bisa jadi wadah percontohan bagi masyarakat, untuk lebih aware dan paham dalam perkara memilah dan mengelola sampah dengan baik.

    Akhirnya, ekonomi sirkular ini bukan cuma tentang pengelolaan sampah belaka. Tapi Lebih dari itu, juga bisa jadi pengingat bahwa sumber daya bisa dimanfaatkan dengan baik hingga tak ada yang terbuang percuma.

    ReplyDelete
  21. Selama ini yang bikin sampah numpuk di TPA 'kan karena yang bekerja di sana terkesan lambat. Gimana nggak lambat?

    Sampah kalau sudah bercampur baur 'kan agak susah dipilah-pilah lagi ya. Jadi makin susah mengelolanya.

    Beda cerita kalau kebiasaan memilah sampah sudah dilakukan di rumah. Maka, petugas di TPA akan semakin mudah mengelolanya. Akhirnya, sampah jadi nggak menggunung lagi deh.

    Ekonomi sirkular ini emang akan semakin mudah dilakukan kalau ada kolaborasi. Nggak jalan sendiri-sendiri.

    ReplyDelete
  22. Memang tanpa disadari sampah bisa jadi peluang ekonomi, hanya aja mungkin kitanya kurang engeh melihat sekeliling karena belum meriah sampah dengan tepat. Makanya kudu konsisten buat menerapkannya dan olah sampah jadi barang bernilai

    ReplyDelete
  23. Mantab bener ini mah.
    Harus bisa diduplikasi oleh semua rumah tangga atau komunitas2 di Indonesia.
    Salut bangeettt ama Oxbow!
    sebagai Living Laboratory Ekonomi Sirkular, Oxbow tentu membuat sampah nggak jadi beban di TPA, ya.
    Kontribusi Oxbow justru menciptakan peluang ekonomi yang baik untuk masyarakat.

    ReplyDelete
  24. Gemas tapi jujur efektif banget buat pengingat kita yang dewasa. Setuju banget, urusan sampah emang gak selesai cuma sampai diangkut truk ke TPA. Kalau dari rumah sudah dibiasakan memilah, dampaknya berantai sampai ke bank sampah dan lingkungan. Salut juga dengan konsep Living Laboratory di Oxbow dan kolaborasi Pentahelix ini, rasanya jadi makin optimistis sama masa depan ekonomi sirkular kita.

    ReplyDelete
  25. Sebuah gagasan yang bagus di tengah kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja terkait sampah. Makin hari makin banyak wacana tentang pengurangan sampah tapi memang dampaknya belum signifikan. Banjiran sampah jauh lebih deras. Tapi setiap aksi perlu kita apresiasi dan kita tidak boleh kehilangan harapan. Aku pun sedang belajar untuk mulai mengompos di rumah. Setidaknya mulai bertanggung jawab dengan sampah yang dihasilkan sendiri. Semua bisa dimulai dari cara yang paling sederhana dan kecil, bismillah nanti akan besar dan membuat bumi jadi lebih baik.

    ReplyDelete
  26. Asli keren banget kawasan Oxbow sebagai Living Laboratory Ekonomi Sirkular. Beneran bisa jadi ruang yang sangat bermanfaat bagi warga. Edukasi terkait pilah sampah, memanfaatkan sampah menjadi sesuatu bernilai, di tengah situasi sampah yang makin memprihatinkan dan kualitas udara kian memburuk, setidaknya ide serta gagasan ini sangat bagus dan semoga berdampak positif ya buat lingkungan dan keuangan masyarakat juga. In this economy era sekarang makin menantang soalnya.

    ReplyDelete
  27. Aku langsung ngebayangin tumpukan sampah di depan rumah yang selama ini cuma dianggap “udah beres” begitu diangkut petugas.

    Ternyata perjalanan sampahnya baru mulai ya. Aku setuju banget kalau perubahan besar itu bisa dimulai dari kebiasaan kecil di rumah, kayak memilah organik dan anorganik.

    Anak-anak yang jadi “polisi sampah” di rumah juga bikin senyum sendiri. Kalau dari kecil udah diajarin, kebiasaan baiknya pasti nempel sampai besar.

    Bank sampah sama ide Living Laboratory di Oxbow juga kedengerannya keren, bikin sampah jadi punya nilai lagi. Mantan tuh.

    Semoga makin banyak keluarga yang mulai dari langkah kecil ini, biar lingkungan kita makin bersih dan ekonomi sirkularnya beneran jalan.

    ReplyDelete
  28. Setuju banget semua harus dimulai dari rumah karena rumah adalah awal dari kehidupan dan juga merupakan pondasi dari masa depan sehingga dari keluarga bisa lebih berdampak kepada masyarakat apalagi semua mulai melakukannya

    ReplyDelete
  29. Memilah sampah emang penting ya. Setidaknya bisa membantu mengurangi beban TPA. Karena dengan dipilah, sampah jadi bisa diolah kembali.

    Program semacam ini memangbagus. Taoi seharusnya ad akerjasama dengan pemerintah juga terkait kebijakan. Karena rakyat Indonesia ini kurang bisa taat kalau nggak dipaksa 😅

    ReplyDelete
  30. Jujur kadang kita sering merasa kalau urusan sampah sudah beres begitu plastik diangkut tukang sampah di depan rumah, padahal PR sebenarnya baru dimulai dari sana.
    Konsep ekonomi sirkular dan living laboratory di Oxbow ini menarik, jadi bikin sadar kalau memilah sampah itu bukan cuma soal buang-buang waktu atau repot, tapi ada nilai manfaat dan perputarannya yang lebih luas buat lingkungan dan masyarakat sekitar.
    Saya senang sekali, pas tahu Nayyara dan Mysha yang justru jadi "polisi sampah" di rumah, lucu tapi sekaligus bukti nyata kalau edukasi dari keluarga dan sekolah itu efeknya kerasa banget ke anak-anak.

    ReplyDelete
  31. Setuju banget sama konsepnya, ketika banyak pihak bekerjasama dalam menyelesaikan permasalahan sampah, maka hasilnya akan lebih baik.
    Mantul juga ada laboratorium hidup sehingga masyakarat bisa menyaksikan bagaimana sampah2 itu dipilih, kemudian ada yang diubah menjadi barang bernilai lebih ya mbak.
    Masuk ke sekolah2 juga sangat penting sehingga bisa mengedukasi generasi masa depan untuk memikirkan betapa pentingnya mengelola sampah dengan baik. Harapannya anak2 ini nantinya yang nyentil orang tua masing2, kali2 ada yang masih buang sampah sembarangan atau nggak memilah jenis2 sampah rumah tangganya.
    Yaaa moga urusan sampah ini makin membaik ke depannya yaa.

    ReplyDelete
  32. Awalnya aku suka pilah sampah Mbak
    Tapi kecewa setelah dijemput tukang sampah malah disatukan di bak
    Aku sudah edukasi tetapi malah diomelin dan dikataik sok blablabla
    Sejak saat itu aku cuma pisa plastik yang bisa ditimbang hahaha

    ReplyDelete
  33. semua orang sebenenrnya bisa bangeettt lebih aware soal sampah ini.
    karena kita kan ingin planet Bumi lebih nyaman dihuni.
    tapi edukasinya memang kudu makin semangaaatttt
    karena manusia sering abai dan lupa

    ReplyDelete
  34. awalnya mungkin akan terasa berat untuk memilah-milah sampah, tapi hal ini harusnya kita singkirkan, bagaimana juga pemilahan sampah juga berpengaruh pada proses penguraiannya.
    apalagi sekarang ditempat umum juga mudah ditemukan bak sampah yang dibagi menjadi 3 kategori biasanya.
    Dulu aku cukup sering dateng ke komunitas pemerhati lingkungan terutama soal pengelolaan sampah, dari sana aku belajar kalau ada beberapa jenis limbah sampah yang masih bisa dimanfaatkan

    ReplyDelete
  35. Perjalanan sampah sebenarnya baru dimulai setelah keluar dari rumah. Aku setuju kalau kebiasaan memilah sampah memang paling realistis dimulai dari rumah, karena dari sana anak-anak pun bisa ikut belajar. Bagian tentang Oxbow sebagai Living Laboratory juga menarik, karena konsepnya bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi membuat masyarakat melihat langsung bagaimana sampah bisa punya nilai dan manfaat

    ReplyDelete
  36. Di tempat tinggal ku juga sedang menerapkan ekonomi sirkular ini kak. Karena TPA sekitar sudah tidak mumpuni lagi untuk menerima sampah baru

    ReplyDelete
  37. Sepakat, ga semuanya harus dimulai dari hal yang besar, justru dari hal yang kecil asal konsisten dilakukan akan berdampak nantinya. Memilah sampah ini terlihat sepele tapi ternyata dampaknya signifikan apalagi jika dilakukan konsisten dan dilakukan oleh banyak orang atau keluarga. Tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga berdampak pada perekonomian keluarga

    ReplyDelete
  38. sampah bisa jadi musibah atau berkah tergantung sudut pandang kita dalam melihatnya. ekonomi sirkular menjadi pilihan paling menguntungkan untuk meminimalisir ketergantungan pada budaya buang sampah sembarangan dan menganggap sampah sebagai ancaman kesehatan. tapi memang perlu ada kedisiplinan dan wawan yang mumpuni untuk bisa mengolah dengan maksimal

    ReplyDelete

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS