Hai hai TemaNda!
Kemarin Manda sempat mampir ke laman Lifestyle Blogger Madura. Lalu bak ketimpa ilham (bukan Pak Ilham ya), jadi kepikiran gitu pingin buat tulisan yang bertemakan keuangan keluarga. Dan yang paling dekat kan memang isu yang lalu saat di 2024 Manda mulai hamil kembali. Bahas keuangan keluarga buat Manda sendiri cukup up and down ya. Jadi nantinya kalau tulisan ini agak berbau curhat colongan mohon dimaklumi, wkwk.
Kehadiran buah hati tentunya selalu membawa kebahagiaan. Namun, bagi Manda, kali ini tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran anak juga membawa konsekuensi finansial yang membuat isi kepala berputar lebih keras.
Apalagi sejak pandemi Covid-19, rasanya banyak sekali variabel kehidupan yang berubah. Ketika rencana sudah dibuat matang, ketika kita merasa semuanya sudah aman untuk beberapa tahun ke depan, tiba-tiba datang sesuatu yang tidak pernah ada dalam perencanaan.
Safety net jebol.
Pemasukan hilang, kondisi usaha berubah, bahkan berujung pada kebangkrutan dan jeratan utang. Sementara itu, ada dua anak yang tetap harus dihidupi.
Ketika semuanya terjadi, dunia rasanya seperti runtuh.
Namun, bagi kami berdua, atas izin Allah, kami memilih untuk tidak menyerah. Kami mencoba bermain dengan skenario baru yang diberikan kehidupan. Dengan sisa mitigasi yang bisa dilakukan, pemanfaatan aset yang masih ada, mengutamakan prioritas, dan melangkah menuju pemulihan secara disiplin, perlahan kami mulai menata kembali masa depan keluarga.
Lalu di tengah kondisi tersebut, Manda justru kembali hamil. Alhamdulillah ala kulli hal.
Mempersiapkan Keuangan Selama Hamil
Dalam kondisi finansial yang normal, persiapan menyambut bayi biasanya berfokus pada pemenuhan gizi ibu dan janin, menabung biaya persalinan, membeli perlengkapan bayi, serta menyiapkan dana darurat.
Namun, ketika kehamilan terjadi di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, cara pandang terhadap persiapan keuangan harus diubah.
Bukan berarti kebutuhan bayi tidak penting. Justru kita harus semakin jeli membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sebenarnya hanya keinginan.
1. Fokus pada kebutuhan utama
Prioritas pertama tentunya adalah kesehatan ibu dan bayi.
Biaya kontrol kehamilan, pemeriksaan yang memang diperlukan dokter, makanan bergizi, vitamin sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta persiapan persalinan harus berada di urutan paling atas.
Sementara membeli perlengkapan bayi dengan berbagai model lucu bisa ditunda.
Bayi sebenarnya tidak membutuhkan lemari penuh pakaian baru. Mereka juga tidak membutuhkan stroller mahal hanya karena sedang tren.
Kalau masih memiliki barang bayi dari anak sebelumnya, tentu bisa digunakan kembali. Begitu pula dengan barang preloved berkualitas baik dari keluarga atau teman. Di sini bahkan sempat membuat rasa haru. Begitu banyak yang peduli, sahabat, saudara, satu persatu muncul membantu. Tepat di saat diri ini merasa begitu sendiri.
2. Jangan menambah utang untuk konsumsi
Ini salah satu hal yang menurut Manda cukup penting.
Ketika kondisi keuangan sedang sulit, jangan sampai kita justru menambah utang untuk membeli barang-barang yang sebenarnya belum mendesak.
Baju bayi baru, dekorasi kamar, perlengkapan menyusui yang mahal, atau berbagai aksesori bayi memang menyenangkan untuk dibeli. Tetapi kalau kemampuan finansial belum memungkinkan, semuanya bisa menunggu.
Manda rasa bayi lebih membutuhkan orang tua yang hadir dan kebutuhan dasarnya terpenuhi. Bukan kamar bayi yang Instagramable.
Walaupun berada dalam keadaan yang kurang ideal, Alhamdulillahnya sampai saat ini kebutuhan dasar keluarga selalu tercukupi. Selalu ada saja jalannya.
Bahkan, pintu rezeki terkadang datang dari arah yang sama sekali tidak pernah kita duga. Sesuai janjiNya.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Bangkrut dan Terlilit Utang?
Ketika kondisi keuangan sudah masuk fase krisis, menurut pengalaman Manda, yang pertama harus dilakukan adalah menurunkan gaya hidup ke level survival.
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah.
Kita harus berani memangkas pengeluaran tersier. Langganan hiburan, jajan di luar, belanja pakaian yang tidak mendesak, nongkrong, sampai kebiasaan kecil seperti membeli kopi setiap hari harus dievaluasi.
Bukan berarti selamanya tidak boleh menikmati hidup. Namun, ketika kondisi keuangan sedang berdarah-darah, prioritas memang harus berubah.
Kopi dari kedai ternama bisa digeser dulu dengan kopi seduhan sendiri di rumah. Bahkan kalau memang tidak perlu, cukup minum air mineral.
Jajan restoran juga bisa dikurangi. Kalau tetap ingin makan di luar, sesekali cari tempat makan sederhana yang harganya lebih terjangkau.
Karena sesungguhnya kita selalu bisa membiayai hidup, tetapi yang sering kali berat adalah membiayai gaya hidup.
Selama kita mau beradaptasi, banyak kebutuhan yang sebenarnya bisa disederhanakan.
Buatlah daftar pengeluaran dan kelompokkan menjadi kebutuhan wajib, kewajiban utang, kebutuhan keluarga, tabungan atau dana darurat, dan keinginan.
Ketika pemasukan terbatas, jangan memaksakan semua pos mendapatkan porsi yang sama. Prioritas harus benar-benar dibuat berdasarkan kebutuhan.
BPJS Kesehatan dan Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Di tengah kondisi kebangkrutan, bagi keluarga kami, BPJS Kesehatan menjadi salah satu penyelamat yang sangat berarti.
Saat hamil anak ketiga, Manda memiliki kondisi kehamilan yang membuat dokter menyarankan persalinan melalui operasi caesar. Membayangkan biaya persalinan dalam kondisi ekonomi yang sedang berantakan tentu membuat kepala semakin pusing.
Untungnya, kami memiliki kepesertaan JKN yang aktif.
Namun, penting juga untuk dipahami bahwa operasi caesar melalui JKN bukan berarti setiap orang bisa memilih operasi caesar dan kemudian seluruh biayanya otomatis ditanggung.
Tindakan medis yang ditanggung mengikuti ketentuan JKN dan harus memiliki indikasi medis berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Misalnya, apabila dokter menemukan kondisi tertentu yang membuat persalinan caesar diperlukan, maka prosedur dapat dilakukan melalui fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sesuai alur pelayanan yang berlaku.
Karena itu, selama hamil, jangan hanya mempersiapkan perlengkapan bayi. Pastikan juga perlindungan kesehatan keluarga sudah diperhatikan.
Kepesertaan JKN perlu dijaga tetap aktif. Simpan informasi fasilitas kesehatan tempat kita terdaftar dan pahami alur rujukan agar tidak kebingungan ketika membutuhkan pelayanan.
Untuk kondisi gawat darurat, tentu ada mekanisme pelayanan tersendiri sehingga pasien dapat langsung memperoleh pertolongan di fasilitas kesehatan yang sesuai.
Bagi Manda, keberadaan jaminan kesehatan seperti ini benar-benar menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan merupakan bagian penting dari perencanaan keuangan keluarga.
Mulai Menabung Kembali
Ketika kondisi mulai sedikit stabil, jangan langsung berpikir bahwa kita harus bisa menabung jutaan rupiah setiap bulan.
Belum tentu perlu.
Mulailah dari angka yang realistis.
Rp5.000 atau Rp10.000 sehari pun tidak masalah. Atau bisa juga langsung menyisihkan sekitar 2–5 persen dari setiap pemasukan yang diterima sebelum uang tersebut digunakan untuk kebutuhan lain.
Yang penting adalah membangun kembali kebiasaan menyisihkan uang.
Jumlahnya mungkin kecil, tetapi konsistensinya jauh lebih penting pada tahap awal.
Kalau suatu bulan ternyata pemasukan lebih besar, persentase yang disisihkan bisa ditambah.
Menyusun Prioritas Tiga Anak
Ketika memiliki tiga anak, tentu kebutuhan semakin banyak. Karena itu, skala prioritas harus semakin jelas.
Untuk pendidikan, misalnya, kita bisa mengoptimalkan fasilitas pendidikan yang tersedia dan mencari program beasiswa atau bantuan pendidikan jika memang memenuhi persyaratan.
Untuk kebutuhan bayi, manfaatkan kembali barang yang masih layak dari kakak-kakaknya. Juga jangan sungkan menerima bantuan orang lain.
Saat bayi mulai makan, dalam hal makanan bayi dan kebutuhan sehari-hari, kita bisa pilih yang sesuai kebutuhan dan kemampuan keluarga. Tidak perlu termakan iklan dan membeli berbagai produk mahal. Pilah yang layak dan bergizi, tapi sesuai kemampuan.
Untuk popok, misalnya, keluarga bisa mempertimbangkan kombinasi popok kain dan popok sekali pakai sesuai kebutuhan, kemampuan, serta kenyamanan bayi. Bersyukurnya di rumah masih banyak popok clodi yang dieman-eman sehingga masih bisa mix pemakaian. Yang pasti kita tidak harus mengikuti standar orang lain.
Begitu pula dengan kebutuhan lainnya. Intinya adalah jangan membandingkan kemampuan finansial keluarga kita dengan keluarga lain.
Mencari Tambahan Pendapatan
Ketika pengeluaran sudah ditekan semaksimal mungkin, sisi pemasukan juga perlu dipikirkan.
Di era digital seperti sekarang, sebenarnya ada cukup banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah sesuai keterampilan masing-masing.
Menulis, mendesain, endorsement, menjadi affiliate, open jastip, menjual produk digital, hingga berbagai pekerjaan freelance bisa menjadi pilihan.
Tidak semuanya harus langsung menghasilkan jutaan rupiah.
Tambahan Rp20.000, Rp50.000, atau Rp100.000 mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten tentu bisa membantu arus kas keluarga.
Bagi Manda sendiri, dunia digital dan pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah menjadi salah satu ruang untuk tetap produktif sekaligus menyesuaikan diri dengan kondisi keluarga.
Jadi kalau yang lihat sosmed Manda lagi aktif-aktifnya biasanya beriringan sama keadaan yang lagi BU ya gaes, wkwk.
Simpulan
Bangkrut saat memiliki anak dan menghadapi persalinan memang merupakan ujian yang bisa jadi terasa berat. Namun, dari sana Manda belajar bahwa kondisi finansial bisa berubah kapan saja. Karena itu, kemampuan beradaptasi sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan uang.
Prioritaskan kebutuhan dasar, hindari menambah utang konsumtif, manfaatkan perlindungan kesehatan yang tersedia, tekan gaya hidup ketika diperlukan, dan perlahan bangun kembali tabungan ketika kondisi mulai stabil.
Ketika kondisi sedang buruk, jangan malu untuk menurunkan gaya hidup.
Dan ketika sudah jatuh, jangan merasa bahwa kehidupan akan selamanya berada di bawah.
Keuangan yang hancur masih bisa dibangun kembali.
Memang tidak instan. Tidak juga selalu mulus.
Ada masa ketika kita harus mengurangi banyak hal yang sebelumnya terasa biasa. Ada masa ketika harus menunda keinginan. Ada masa ketika kita harus benar-benar menghitung uang bahkan untuk kebutuhan kecil.
Tetapi semua itu bukan berarti gagal.
Rencana boleh berubah. Tetapi selama masih ada kemauan untuk menata ulang, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali. Pelan-pelan saja. Selangkah demi selangkah.

Add your comment