TemaNda,
Ada kalanya alam memberikan pengingat dengan cara yang membuat kita tertegun.
Seperti beberapa hari terakhir, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Aktivitas gunung api di Selat Sunda itu tidak hanya menjadi perhatian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung, tetapi juga terasa dampaknya hingga wilayah yang cukup jauh.
Abu vulkanik bahkan mencapai wilayah Jawa Barat. Pada 6 September 2026, Bandara Husein Sastranegara Bandung sempat menghentikan operasional sementara akibat sebaran abu vulkanik. Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah penerbangan dan ribuan calon penumpang.
Sebelumnya, warga Bandung Raya juga dibuat bertanya-tanya oleh suara dentuman yang terdengar pada dini hari 5 September.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya suara dari kejauhan.
Namun bagi sebagian lainnya, dentuman tersebut bisa menghadirkan rasa cemas yang sulit dijelaskan.
Apalagi bagi mereka yang pernah mengalami bencana.
Karena ternyata, bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan. Ia juga bisa meninggalkan ingatan panjang di dalam diri manusia.
Ketika Dentuman Membawa Ingatan Kembali
Saat mendengar adanya suara keras pada dini hari, pertanyaan yang mungkin muncul cukup sederhana.
“Gempa?”
Itu pertanyaan pertama Manda saat terbangun dan hanya mendengar ceritanya dari Pavi. Malamnya, saat dentuman berulang itu terdengar Manda sudah tidur pulas.
Wajar saja jika pertanyaan itu muncul. Kami tinggal di wilayah yang memiliki berbagai potensi bencana, termasuk gempa bumi. Bandung Utara, mepet Lembang.
Namun kemudian saat Manda mulai mencari informasi di ponsel, BMKG memastikan dentuman yang terdengar di Bandung Raya pada 5 September 2026 bukan berasal dari aktivitas gempa bumi. Analisis lanjutan BMKG menunjukkan fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan propagasi gelombang akibat aktivitas vulkanik. Skyquake. Istilah itu lalu akhirnya muncul, awam terdengar.
Tetapi lalu ada hal lain yang ikut teringat.
Bagi masyarakat Jawa Barat, suara dentuman, getaran, atau kabar tentang bencana bisa saja membawa kita kembali kepada satu peristiwa yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan, gempa Cianjur pada 21 November 2022.
Gempa berkekuatan M5,6 tersebut dirasakan hingga Kota Bandung dan sejumlah wilayah Jawa Barat. BMKG mencatat guncangan di Bandung berada pada intensitas III MMI.
Di Cianjur sendiri, dampaknya sangat besar. Membuat Manda kembali teringat. Rumah-rumah runtuh. Sekolah dan fasilitas umum rusak. Ribuan orang harus mengungsi. Dan yang paling menyedihkan, banyak keluarga kehilangan orang terkasihnya.
Saat itu Manda membaca tulisan seorang Kreator Digital Cianjur yang memaparkan suasana dan cerita di balik bencana tersebut. Tulisan itu membuat Manda menyadari bahwa sebuah bencana tidak berhenti ketika gempa reda. Ada kehidupan yang harus ditata ulang dan trauma yang membutuhkan waktu untuk pulih.
Sebagai Blogger Cianjur, ia juga pernah menuliskan pengalaman dan keresahannya tentang kondisi masyarakat paska gempa. Tentunya menjadi pengingat bahwa cerita tentang bencana perlu terus disampaikan agar kita tidak mudah lupa bahwa alam selalu punya cara untuk mengingatkan manusia agar lebih waspada.
Data BNPB pada perkembangan awal bencana bahkan sudah menunjukkan ratusan korban jiwa dan puluhan ribu warga mengungsi. Data pemutakhiran berikutnya terus berubah seiring proses pencarian dan identifikasi korban.
Di balik angka tersebut ada manusia.
Ada keluarga.
Ada rumah yang kehilangan penghuninya.
Ada anak-anak yang harus menghadapi kehilangan.
Dan mungkin ada orang yang sampai sekarang masih merasa cemas ketika mendengar suara keras atau merasakan getaran. Seperti halnya Manda.
Itulah sebabnya kita perlu melihat bencana bukan hanya sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai pengalaman manusia.
Bandung dan Bencana
Kalau selama ini Bandung lebih sering dikenal sebagai kota dengan udara sejuk, kuliner, tempat wisata, dan suasana yang menyenangkan, bukan berarti wilayah ini bebas dari ancaman bencana.
Justru dalam beberapa tahun terakhir, kita semakin sering melihat bagaimana berbagai kejadian alam berdampak pada masyarakat Bandung Raya dan sekitarnya.
Banjir misalnya.
Wilayah Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang dan beberapa kawasan lain di Kabupaten Bandung sudah tidak asing dengan persoalan banjir. Pada Februari 2025, BNPB mencatat banjir di Kabupaten Bandung berdampak pada ribuan kepala keluarga dan lebih dari 7.000 jiwa.
Beberapa bulan kemudian, pada Mei 2025, banjir kembali melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bandung. BNPB mencatat lebih dari 17.000 warga terdampak dan ribuan rumah ikut terkena dampaknya.
Bagi sebagian orang, banjir mungkin dianggap sebagai bencana biasa, atau bahkan rutin >.<.
Tetapi bagi keluarga yang rumahnya terendam, tentu tidak pernah terasa biasa.
Ada perabot yang rusak.
Ada kendaraan yang harus diselamatkan.
Ada anak-anak yang tidak bisa sekolah.
Ada orang tua yang harus memikirkan bagaimana membersihkan rumah setelah air surut.
Dan ada kekhawatiran, bagaimana kalau hujan kembali turun?
Bandung dan Longsor
Bandung dan kawasan sekitarnya bukan hanya berhadapan dengan banjir.
Wilayah perbukitan di Bandung Barat juga memiliki ancaman longsor.
Pada 24 Januari 2026, tanah longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Tanggalnya sama dengan kelahiran Manda. Dan jaraknya tidak sampai 9 KM dari rumah keluarga kami. Dekat.
Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa dan menyebabkan proses pencarian serta evakuasi berlangsung selama berhari-hari.
Sebelumnya, berbagai kejadian longsor juga terjadi di wilayah Bandung Barat.
Hujan deras, kondisi tanah, kemiringan lereng, serta perubahan lingkungan dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko longsor.
Lagi-lagi kita mendapatkan pelajaran yang sama.
Bencana tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang ia dimulai dari hujan yang turun berjam-jam.
Dari tanah yang perlahan menjadi jenuh air.
Dari retakan kecil yang mungkin tidak kita perhatikan.
Karena itu, kewaspadaan seharusnya menjadi bagian dari keseharian.
Ada Gunung, Ada Sesar, Ada Risiko yang Perlu Dipahami
Bandung juga berada tidak jauh dari kawasan gunung api.
Gunung Tangkuban Parahu menjadi salah satu gunung api yang aktivitasnya perlu terus dipantau. Selain itu, ada pula Sesar Lembang yang selama ini menjadi perhatian dalam kajian kegempaan wilayah Bandung.
Di 2019, saat Gunung Tangkuban Parahu kembali memunculkan tanda aktivitas, gempa yang terasa cukup signifikan. Itu cukup traumatis untuk Manda. Karena kondisi sendiri dan sedang menjaga dua putri Manda yang usianya 4 dan 2 tahun. Seketika mencoba sigap mencari kerudung instan dan menggendong dua anak itu dengan setengah berlari keluar. Kalau sekarang diingat-ingat, kok bisa kuat ya.
Itulah kehidupan tinggal di sekitar Sesar Lembang. Tentunya bukan berarti kita harus hidup dengan ketakutan menunggu gempa besar. Justru pengetahuan tentang keberadaan sesar menjadi alasan mengapa mitigasi perlu dilakukan.
Kita tidak bisa mengetahui kapan gempa akan terjadi. Tetapi kita bisa mempersiapkan diri. Kita bisa tahu tempat berlindung yang aman. Kita bisa memahami bagaimana cara keluar rumah ketika terjadi gempa. Kita bisa menentukan titik kumpul keluarga. Kita bisa mengajarkan anak-anak apa yang harus dilakukan ketika terjadi guncangan. Dan kita bisa memastikan perabot besar di rumah tidak mudah roboh ketika terjadi guncangan.
Saat keadaan darurat terjadi, kesiapan kita bisa sangat berarti.
Dari Krakatau, Kita Belajar bahwa Jarak Bukan Berarti Tidak Berdampak
Erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini memberikan satu pelajaran menarik.
Sumber bencana bisa berada jauh dari tempat kita tinggal, tetapi dampaknya dapat merambat ke wilayah lain.
Abu vulkanik dapat menyebar mengikuti kondisi atmosfer.
Aktivitas penerbangan dapat terganggu.
Kualitas udara dapat terpengaruh. Aktivitas masyarakat bisa ikut berubah. Bahkan suara dentuman dari aktivitas erupsi dapat terdengar sangat jauh. BMKG mencatat sebaran abu vulkanik pada 6 September mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Ini mengingatkan kita bahwa hidup di Indonesia berarti hidup berdampingan dengan berbagai dinamika alam.
Kita tidak bisa memilih agar bencana hanya terjadi jauh dari rumah kita. Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah memahami risikonya.
Mawas Diri Bukan Berarti Hidup dalam Ketakutan
Mungkin setelah melihat berita tentang erupsi Anak Krakatau, mendengar dentuman, mengingat Cianjur, membaca kabar banjir, atau melihat berita longsor Bandung Barat, ada yang kemudian merasa khawatir.
Itu manusiawi.
Tetapi semoga kekhawatiran tersebut tidak berubah menjadi kepanikan.
Mawas diri bukan berarti setiap hari hidup dengan rasa takut.
Mawas diri berarti kita tahu bahwa risiko itu ada dan memilih untuk tidak mengabaikannya.
Mulai dari hal sederhana.
- Cari tahu jalur evakuasi di lingkungan rumah.
- Kenali titik kumpul.
- Simpan dokumen penting di tempat yang mudah diamankan.
- Siapkan tas siaga bencana.
- Pastikan ponsel memiliki akses informasi dan nomor darurat.
- Ajarkan anak-anak apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa atau bencana lainnya.
- Dan yang tidak kalah penting, biasakan mencari informasi dari sumber resmi seperti BMKG, Badan Geologi, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.
Jangan sampai rasa takut membuat kita justru mudah percaya pada kabar yang belum jelas.
Bukan untuk Takut, tetapi untuk Lebih Siap
Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak bisa menghentikan gunung untuk meletus.
Kita hanya bisa berdoa meminta hujan berhenti ketika banjir mulai datang.
Kita tidak bisa memerintah tanah agar tidak longsor atau bumi agar tidak bergerak.
Tetapi kita bisa memilih bagaimana merespons semua itu.
Kita bisa belajar dari Cianjur.
Kita bisa belajar dari banjir yang berulang di Kabupaten Bandung.
Kita bisa belajar dari longsor di Bandung Barat.
Kita bisa belajar dari potensi gempa yang perlu dimitigasi.
Dan sekarang, kita juga kembali mendapatkan pengingat dari Gunung Anak Krakatau. Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Ibu, Gunung Sinabung.
Bukan untuk membuat kita takut tinggal di Bandung.
Bukan pula untuk membuat kita merasa bahwa bencana akan datang setiap saat.
Melainkan untuk mengingatkan bahwa kewaspadaan adalah bagian dari cara kita menjaga keluarga.
Bandung tetap boleh menjadi kota yang adem.
Kita tetap boleh menikmati kuliner, berjalan-jalan, bekerja, sekolah, dan menjalani hari seperti biasa.
Namun di balik rutinitas itu, semoga kita tidak lupa untuk sedikit lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Karena bencana memang tidak selalu bisa kita prediksi.
Tetapi kesiapsiagaan bisa kita mulai hari ini.

Add your comment