Hai hai TemaNda!

Ada masa ketika radio menjadi salah satu benda yang wajib ada di kamar Manda. Bukan sekadar pajangan atau alat elektronik yang sesekali dinyalakan, tetapi teman yang hampir selalu menemani aktivitas sehari-hari.

Sejak masih duduk di bangku SD sampai SMA, Manda punya kebiasaan mendengarkan radio. Bahkan, rasanya ada yang kurang kalau kamar terlalu sepi tanpa suara penyiar atau lagu yang mengalun dari radio.

Kadang sambil belajar, membaca buku, atau sekadar ngelamun rebahan. Radio terus menyala dan menemani apa pun yang sedang Manda lakukan.

Dannn, karena Manda beberapa kali berpindah kota, radio favoritnya pun ikut berganti. Setiap kota seperti punya cerita dan kenangan audionya sendiri.

Kalau sekarang diinget-inget lagi, ternyata perjalanan hidup Manda juga ada timeline yang bisa ditelusuri lewat stasiun radio yang pernah menjadi teman sehari-hari. 

Radio Sampai Podcast Teman di Setiap Kota


Awal Kenal Radio

Waktu kecil dan masih tinggal di Serpong, salah satu radio yang paling sering Manda dengarkan adalah Prambors.

Rasanya seru aja gitu dengerin lagu-lagu yang sedang populer, ngikutin obrolan penyiar, sampai nunggu lagu favorit diputar. Ada sensasi seru tersendiri waktu dengar lagu yang kita suka muncul di radio tanpa tahu kapan akan diputar.

Beda dengan sekarang yang tinggal mencari judul lagu di aplikasi musik, dulu kita harus menunggu. Kalau beruntung, lagu kesukaan diputar saat kita sedang mendengarkan. Kalau gak, ya harus sabar menunggu kesempatan berikutnya.

Kadang ada juga keinginan untuk merekam lagu dari radio menggunakan kaset. Sayangnya, kalau penyiar tiba-tiba ikut berbicara di bagian awal atau akhir lagu, hasil rekamannya jadi kurang sempurna. Hehehe. Eh tapi itu yang bikin malah jadi gak bakal sama ya setiap rekaman.

Dannn, justru hal-hal kecil seperti itu yang menurut Manda malah ngebuat pengalaman mendengarkan radio terasa menyenangkan.

Radio juga membuat kita merasa dekat dengan penyiar yang bahkan belum pernah ditemui. Suara mereka seperti sudah akrab karena hampir setiap hari terdengar di kamar.

Mulai Kenal MP3 Player

Ketika pindah kota karena ikut orang tua dinas kita sekeluarga tinggal di Serang Banten. Ada yang baru tapi kebiasaan mendengarkan radio masih ada, meskipun mulai ditemani teknologi lain.

Saat itu Manda udah mulai punya MP3 Player. Rasanya menyenangkan karena bisa membawa kumpulan lagu sendiri ke mana-mana tanpa harus menunggu lagu diputar oleh stasiun radio.

Namun, bukan berarti radio langsung ditinggalkan.

Sesekali Manda masih mendengarkan PBS FM, kalau gak salah ingat. Nama itu masih tersimpan dalam ingatan sebagai salah satu radio yang pernah menemani masa tinggal di Serang.

Menariknya, setiap pindah kota, kita seperti punya daftar kenangan baru. Ada tempat yang mengingatkan kita pada lagu tertentu, ada suara penyiar yang membuat kita teringat masa sekolah, dan ada stasiun radio yang namanya masih melekat meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.

Mungkin memang begitu cara memori bekerja. Kadang, satu suara saja cukup untuk membawa kita kembali ke masa lalu.

Merantau ke Bandung dan Cerita Horor Ardan Nightmare

Memasuki masa SMA, Manda mulai merantau ke Bandung. Orang tua masih di Kota Serang atau Serpong. Dan mulai deh jadi anak rantau Bandung. Kota Kembang sejuta cerita.

Di kota ini, teman radio berikutnya adalah Ardan dan OZ.

Nah, kalau sudah menyebut Ardan, Manda jadi teringat satu program yang dulu cukup membuat penasaran sekaligus merinding, yaitu program Ardan Nightmare Side.

Ada gak yang dulu juga keranjingan mendengarkan cerita horor Ardan Nightmare Side setiap malam Jumat?

Rasanya ada ngeri ngeri sedep setiap mulai dengerin cerita horor melalui radio. Emang sih kita cuma mengandalkan suara penyiar, narasi, musik latar, dan imajinasi sendiri untuk membayangkan kejadian yang diceritakan.

Gak ada gambar yang memperlihatkan sosok menyeramkan. Gak ada visual yang ngasih tahu seperti apa tempat kejadiannya. Justru karena vuma dengerin, imajinasi kita bisa ke mana-mana.

Kadang suasana kamar yang tadinya biasa saja mendadak terasa berbeda setelah mendengarkan cerita horor. Apalagi kalau sudah malam dan lampu kamar mulai dimatikan.

Entah kenapa, meskipun takut, tetap saja penasaran ingin mendengarkan sampai selesai. Malah ada saat saat kita penasaran sama spot seram yang dibahas sama penyiar lalu sengaja kita datengin. Dulu tuh pernah sengaja bareng-bareng pengen liat mobil ambulans yang gak bisa dipindahin, nyari Rumah Gurita, ke Tanjakan Emen, atau di sekolah sendiri yang katanya ada hantu gadis Belanda bernama Nancy.

Buat Manda, pengalaman seperti ini justru jadi salah satu kenangan masa remaja yang seru buat dibahas sama sahabat SMA. Radio juga bukan hanya tempat mendengarkan musik, tetapi juga menghadirkan hiburan yang membuat kita menunggu jadwal siaran berikutnya.

Sejak Bekerja Radio Menemani Perjalanan di Jakarta

Memasuki dunia kerja pada 2011, kebiasaan mendengarkan radio masih berlanjut.

Ketika berada di Jakarta, Manda biasanya mendengarkan Gen FM dan Jak FM. Mungkin karena aktivitas dan perjalanan sehari-hari membuat radio menjadi teman yang menyenangkan.

Ada kalanya kita sedang berada di jalan, terjebak macet, atau menjalani rutinitas yang itu-itu saja. Mendengarkan radio membuat perjalanan terasa sedikit lebih hidup.

Selain musik, obrolan penyiar juga menjadi bagian yang menarik. Kadang ada cerita lucu, informasi ringan, atau pembahasan sehari-hari yang terasa dekat dengan kehidupan pendengar.

Menariknya, meskipun kita gak mengenal penyiar secara langsung, suara mereka bisa terasa akrab. Seolah-olah ada teman yang sedang mengobrol menemani perjalanan.

Mungkin inilah salah satu hal yang membuat radio punya tempat tersendiri di hati pendengarnya.

Kita tidak selalu mendengarkan radio karena ingin mencari lagu tertentu. Terkadang, kita hanya ingin mendengar suara manusia di tengah perjalanan atau aktivitas yang sedang dilakukan.

Dari Mendengarkan Radio ke Menikmati Podcast

Sekarang, kebiasaan mendengarkan radio memang sudah tidak sesering dulu. Bukan karena udah gak suka sih, tapi karena pola aktivitas dan pilihan hiburan juga berubah.

Belakangan ini Manda justru sedang suka dengarin podcast. Dari Raditya Dika, Dedy Corbuzier, sampai Bahlul. Duo Bahlul ini yang lagi ditunggu-tunggu sih. Yang sekarang juga hadir di TikTok, jadi sesekali Manda bisa sambil dengerin obrolan mereka melalui live Tiktoj.

Kalau pagi sudah gak riweeuh, Manda kadang ikut dengarin atau liat live TikTok mereka. Soalnya kan kondisi di rumah dengan toddler tentu membuat waktu luang sulit diprediksi.

Ada hari ketika pagi kerasa cukup santai. Ada juga hari ketika baru mulai beraktivitas saja sudah banyak hal yang harus dikerjakan.

Karena itu, sekarang Manda lebih sering mendengarkan atau menonton YouTube mereka sih. Konten yang bisa diputar kapan saja terasa lebih fleksibel dibandingkan harus menyesuaikan diri dengan jadwal siaran langsung.

Kalau lagi ada waktu, bisa menikmati obrolannya sampai selesai. Kalau tiba-tiba harus ngurus El atau melakukan pekerjaan lain, tinggal berhenti dulu dan melanjutkannya nanti. Atau bahkan gak lanjut sampe seka

Ternyata kebiasaan mendengarkan audio itu masih bertahan sampai sekarang. Hanya medianya saja yang berubah.

Dulu Manda menunggu jadwal program radio. Sekarang bisa memilih sendiri kapan ingin mendengarkan podcast atau menonton tayangan yang disukai.

Penyiar Radio dan Radio TikTok, Apa Bedanya?

Kalau dipikir-pikir, perkembangan teknologi membuat pengalaman mendengarkan siaran juga semakin beragam.

Dulu kita kenal penyiar radio melalui suara. Mereka hadir di tengah aktivitas pendengar tanpa harus memperlihatkan wajah. Kita bisa membayangkan karakter, ekspresi, bahkan suasana studio hanya dari suara yang terdengar.

Sekarang, kita bisa menikmati obrolan serupa melalui podcast, siaran langsung, maupun konten video di media sosial.

Bahkan, ada format yang dikenal sebagai radio TikTok. Konsepnya mengingatkan kita pada siaran radio, tetapi hadir melalui platform digital dengan interaksi yang lebih langsung antara host dan penonton.

Manda jadi tertarik membaca pengalaman seorang mantan penyiar radio yang membagikan cerita tentang dunia radio dan adaptasi ke format siaran TikTok.

Ternyata, meskipun sama-sama mengandalkan suara dan obrolan, radio konvensional dan live TikTok punya pengalaman yang berbeda. Ada unsur visual, interaksi langsung, serta kebiasaan audiens yang ikut berubah.

Bagi pendengar seperti Manda, perubahan ini justru memberikan lebih banyak pilihan. Kita bisa menikmati hiburan audio melalui berbagai cara, sesuai dengan waktu dan kebutuhan.

Radio Punya Tempat Tersendiri dalam Ingatan

Kalau mengingat perjalanan dari Serpong, Serang, Bandung, sampai Jakarta, rasanya menyenangkan menyadari bahwa setiap kota punya soundtrack-nya sendiri.

Prambors mengingatkan Manda pada masa kecil di Serpong. PBS FM menjadi bagian dari ingatan ketika tinggal di Serang. Ardan dan OZ membawa kembali kenangan masa SMA sampai kuliah di Bandung, termasuk cerita horor yang dulu dinantikan setiap malam Jumat.

Sementara Gen FM dan Jak FM mengingatkan pada masa bekerja dan perjalanan di Jakarta.

Sekarang, podcast menjadi teman baru yang lebih fleksibel mengikuti aktivitas sehari-hari.

Mungkin kita emang gak selalu membutuhkan perangkat radio untuk menikmati siaran. Tapi ada sesuatu dari kebiasaan mendengarkan yang rasanya sulit digantikan. Suara penyiar, lagu yang tiba-tiba diputar, obrolan ringan, sampai cerita yang membuat kita tertawa atau penasaran.

Dulu radio selalu menyala di kamar. Sekarang, Manda bisa mendengarkan podcast melalui ponsel sambil melakukan berbagai aktivitas.

Medianya berubah, zamannya berganti, tetapi kesenangan mendengarkan orang bercerita ternyata masih sama.

Jadi, kalau ditanya apakah Manda masih suka mendengarkan radio, jawabannya masih suka, meskipun sekarang sudah lebih sering menikmati podcast dan YouTube.

Nah, sekarang Manda penasaran. Di antara teman-teman yang membaca tulisan ini, siapa yang dulu punya radio di kamar dan selalu menyalakannya setiap hari?

Ada yang pernah mendengarkan Ardan Nightmare Side juga gak? Atau punya kenangan dengan penyiar radio favorit yang suaranya masih teringat sampai sekarang? Spill dong di komentar..

SHARE 4 comments

Add your comment

  1. Iya zaman SMP dan SMA tuh masih masa keemasan dengerin radio. Dulu aku pas SMA kerja sama dgn salah satu radio di kotaku. Kebetulan aku ketua ekskul Mading. Kita kerja sama soal mejengin lagu2 hits saat itu. Bikin peringkat lagu terbaik selama sepekan.

    Kalo pas SMP menuju SMA, dulu sering dengerin Wijaya FM Surabaya buat eja lagu pas malam sabtu. Jadi penyiar mengeja lirik lagu bahasa Inggris. Nah kita sbg pendengar, nulis lirik lagu itu. Pelan2. Ntr kalo ada kata yg susah, dieja satu per satu katanya. Dari situ aku suka pelajaran bahasa Inggris deh. Hehe.

    ReplyDelete
  2. Kalau aku dulu malah pengen jadi penyiar mbak
    Pikirku, aku ga perlu malu karena gak tampak di layar
    Hanya saja kuliahku ke Sains maka jadilah aku belajar jadi news anchor abal abal sekarang hahaha

    ReplyDelete
  3. Sepertinya kita seangkatan mba. Dulu juga suka denger radio sampai telpon minta putarkan lagu hahahaha ngga pake salam2 karena orang baru di kota ituu. Terus dengerin spotify. Radio juga tp onlen. Ya ampun.. terus podcast tp udah ga pernah lagi. sekarang baru tahu ada radio tiktok

    ReplyDelete
  4. Radio jelas punya kenangan tersendiri, yang paling setia menghibur dan menemani jika lagi sendirian, kalo lagi kangen sama gebetan kirim atensi ke radio, kirim salam pake nama samaran, lagu nya di kirim spesial untuk someone.
    Pernah mendaki sendiri Gunung Ciremai, tapi ditemani radio, mesik masuk hutan lebat tapi radio tetep nyala jadi berasa selalu punya temen.
    Waktu merantau juga yang pertama dibawa itu radio, pokoknya memang bener radio pernah menjadi sahabat sejati di masa muda.
    Sekarang radio masih eksis dengan gayanya yang baru, cuma kehilangan rasa radio yang dulu khas dengan sura noise nya.

    ReplyDelete

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS