Hai hai TemaNda!

Ternyata perjalanan menyekolahkan anak memang jadi perjalanan belajar bagi orang tuanya juga.

Ketika pertama kali memutuskan menyekolahkan Nayyara di Sekolah Murid Merdeka (SMM), Manda sepertinya gak pernah ngebayangin akan menemani perjalanan ini sampai hampir tujuh tahun. Berawal dari masa pandemi, ketika kegiatan belajar di sekolah konvensional berubah menjadi pembelajaran jarak jauh, sampai sekarang Nayyara sudah semakin besar dan bersiap melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Nayyara sebenarnya sudah bergabung dengan SMM sejak TK B. Jadi, kalau dihitung dari awal perjalanan itu, tahun ini sudah memasuki tahun keenam menuju ketujuh bersama SMM.

Banyak hal yang berubah selama perjalanan tersebut. Bukan hanya soal metode belajar dan perkembangan anak, tetapi juga cara Manda memandang pendidikan, nilai, prestasi, serta peran orang tua dalam mendampingi proses belajar.

Cerita Sekolah Dari Rumah Dengan Blended Learning


Berawal dari Pandemi dan Kebutuhan Sekolah yang Lebih Terarah

Semua bermula ketika pandemi mengubah banyak hal, termasuk kegiatan belajar anak-anak.

Sebelumnya, Nayyara bersekolah di sekolah konvensional PAUD dekat rumah. Namun, ketika pandemi datang, kegiatan belajar dilakukan dari rumah melalui WhatsApp Group.

Manda memahami bahwa saat itu semua sekolah sedang beradaptasi dengan keadaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Guru, murid, dan orang tua sama-sama harus mencari cara agar proses belajar tetap berjalan.

Namun, setelah menjalaninya, Manda merasa membutuhkan sistem pembelajaran yang lebih terarah. Bukan sekedar menerima tugas melalui grup WhatsApp, lalu mengerjakannya di rumah tanpa pengalaman belajar yang terasa utuh.

Manda ingin Nayyara tetap mendapatkan pendampingan guru, berinteraksi dengan teman, dan memiliki kegiatan belajar yang terstruktur meskipun tidak setiap hari datang ke sekolah.

Akhirnya, Manda mulai mencari sekolah dengan sistem blended learning yang menurut Manda lebih sesuai dengan kebutuhan saat itu. Sampai kemudian menemukan Sekolah Murid Merdeka.

Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan pendidikan Nayyara yang ternyata berlangsung cukup panjang hingga sekarang.

Menjalani Sekolah Blended Learning dan Kerja Sama Semua Pihak

Awalnya mungkin ada bayangan bahwa sekolah daring akan lebih fleksibel karena anak bisa belajar dari rumah. Kenyataannya, menjalani sistem blended learning tetap membutuhkan koordinasi dan kedisiplinan.

Ada jadwal kelas yang perlu diperhatikan, tugas yang harus diselesaikan, serta komunikasi dengan wali kelas yang perlu dijaga.

Buat Manda, koordinasi dengan wali kelas menjadi salah satu bagian penting. Orang tua perlu mengetahui dan menyampaikan perkembangan anak, memahami kebutuhan belajar, dan memastikan informasi mengenai kegiatan sekolah tersampaikan dengan baik.

Selain itu, meskipun pembelajaran bisa dilakukan dari rumah, Manda juga berusaha mengambil banyak jadwal untuk datang ke lokasi Hub atau tempat kegiatan belajar SMM.

Hal ini penting supaya anak-anak tetap memiliki kesempatan bersosialisasi secara langsung dengan guru dan teman-temannya.

Apalagi ketika ada kegiatan pengerjaan tugas harian maupun sumatif. Ada pengalaman belajar yang rasanya berbeda ketika anak bisa bertemu langsung, berdiskusi, bertanya, dan menyelesaikan kegiatan bersama teman.

Jadi, sekolah blended learning bukan berarti anak hanya duduk di depan layar sepanjang waktu.

Justru, orang tua perlu ikut mengatur ritme agar kegiatan belajar daring dan pertemuan langsung bisa berjalan seimbang.

Di sinilah Manda belajar bahwa fleksibilitas bukan berarti semuanya bisa dilakukan sesuka hati. Tetap ada tanggung jawab dan komitmen yang perlu dijalankan bersama.

Tidak Mengejar Angka Rapor Tapi Pemahaman

Kalau ditanya seperti apa gaya Manda mendampingi anak belajar, mungkin jawabannya cukup sederhana. Manda termasuk tipe orang tua yang santai dan gak terlalu ngoyo.

Bukan berarti pendidikan anak gak penting. Justru Manda ingin mereka memahami apa yang sedang dipelajari, bukan sekadar mengejar hasil akhir atau nilai di rapor.

Manda lebih senang ketika anak memahami konteks dari sebuah materi. Mereka tahu mengapa sesuatu perlu dipelajari, bagaimana menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, dan apa yang bisa mereka lakukan dengan pengetahuan tersebut.

Sebab, menurut Manda, belajar seharusnya bukan hanya tentang mendapatkan nilai bagus.

Mungkin cara pandang ini juga dipengaruhi pengalaman Manda ketika masih sekolah dulu. Dulu, rasanya banyak hal diukur dari nilai. Ranking, angka rapor, dan prestasi akademis sering menjadi tolok ukur keberhasilan.

Pengalaman itu ternyata meninggalkan sesuatu yang masih terasa sampai sekarang.

Ada kalanya Manda mengalami anxiety ketika ingatan atau situasi tertentu memicu kembali perasaan yang dulu pernah dialami. Berbagai tuntutan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik dan rasa tidak nyaman saat target tersebut tidak tercapai.

Karena itu mungkin ya, menikmati belajar dan memilih cara belajar yang bisa dinikmati menjadi lebih penting bagi Manda untuk anak-anak. Kalau ada istilah Tiger Mom, ya Manda mah jauh sih dari itu.

Tapi kalau karakter macan kadaang keluar juga sih kalau si kesabaran setipis tisu itu mulai habis, hehe.

Tapi ya balik lagi ya, bukan berarti nilai gak penting sama sekali. Nilai tetap bisa menjadi salah satu bahan evaluasi. Namun, Manda pribadi gak ingin angka menjadi satu-satunya ukuran perkembangan anak. Harapannya mereka bisa mencapai pemahaman belajar dan kesadaran dalam belajar, bukan cuma menghapal. 

Belajar Menjadi Orang Tua yang Terus Beradaptasi

Selama hampir tujuh tahun mendampingi Nayyara di SMM, Manda juga menyadari bahwa orang tua tidak selalu tahu cara terbaik untuk mendampingi anak.

Ada kalanya jadwal berantakan, ada tugas yang perlu diingatkan berkali-kali, atau ada materi yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.

Belum lagi ketika anak sedang kurang bersemangat belajar. Orang tua juga perlu mencari tahu apakah mereka sedang lelah, kesulitan memahami materi, atau membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Manda sendiri tentu masih punya banyak kekurangan.

Ada hari ketika bisa mendampingi anak dengan sabar. Ada juga hari ketika pekerjaan dan urusan rumah membuat perhatian terbagi. Namanya juga manusia, ya. Hehehe.

Namun, perjalanan ini mengajarkan Manda bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah. Orang tua juga punya peran besar dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung.

Termasuk belajar memahami bahwa setiap anak memiliki proses dan kecepatan perkembangan yang berbeda.

Sekolah Tidak Harus Sempurna tapi Penting Kita Tahu Apa yang Bisa Dikembangkan

Selama menjalani pendidikan anak, Manda juga semakin memahami bahwa tidak ada sekolah yang benar-benar sempurna.

Setiap sistem pendidikan tentu memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing. Begitu juga dengan pengalaman menjalani sekolah blended learning.

Ada hal-hal yang terasa cocok, ada yang perlu disesuaikan, dan ada pula pengalaman yang membuat kita harus mencari solusi bersama.

Bagi Manda, hal yang paling penting adalah bagaimana kita menentukan fokus.

Apakah ingin terus-menerus melihat kekurangan dan menghabiskan energi untuk mengeluh, atau mencoba melihat bagian yang masih bisa dikembangkan?

Bukan berarti kita harus menutup mata terhadap hal yang perlu diperbaiki. Kritik dan evaluasi tetap penting. Namun, akan lebih bermanfaat ketika kita juga berusaha mencari jalan keluar.

Ketika ada tantangan dalam mendampingi anak, Manda mencoba melihat apa yang bisa dilakukan dari sisi keluarga. Apakah jadwal perlu disusun ulang? Apakah komunikasi dengan wali kelas perlu ditingkatkan? Apakah anak membutuhkan lebih banyak kesempatan belajar langsung di Hub?

Dengan begitu, perhatian kita gak hanya berhenti pada rasa tidak suka terhadap suatu keadaan.

Manda juga percaya bahwa setiap keluarga punya kebutuhan pendidikan yang berbeda. Sistem yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk anak lainnya.

Karena itu, memilih sekolah sebaiknya bukan hanya mengikuti tren, tetapi memahami kebutuhan dan nilai yang ingin ditanamkan kepada anak.

Mengenal Pilihan Pendidikan dan Sistem Blended Learning

Seiring berkembangnya pilihan pendidikan, orang tua sekarang memiliki lebih banyak referensi untuk memahami metode belajar yang tersedia.

Salah satunya melalui informasi dan artikel seru yang dibagikan di Home Education Centre. Yang tentunya bisa menjadi salah satu referensi untuk memperluas wawasan tentang pendidikan dan proses belajar anak.

Selain itu, pembahasan mengenai Sekolah Blended Learning juga menarik untuk dipelajari, terutama bagi orang tua yang sedang mencari alternatif sistem pendidikan dengan perpaduan pembelajaran daring dan tatap muka.

Menurut Manda, sebelum memilih sekolah, kita perlu memahami bagaimana sistem tersebut dijalankan. Bagaimana jadwal belajarnya, bagaimana guru mendampingi anak, bagaimana interaksi sosial dibangun, serta seberapa besar keterlibatan orang tua yang dibutuhkan.

Sebab, sekolah dengan sistem yang fleksibel tetap membutuhkan komitmen dari seluruh pihak.

Orang tua juga perlu realistis dengan kondisi keluarga. Jangan sampai memilih sistem pendidikan tertentu hanya karena terlihat praktis, tetapi ternyata tidak sesuai dengan waktu, kebutuhan, dan kesiapan anak.

Perkembangan Sampai Sejauh Ini

Kalau melihat kembali perjalanan sejak TK B sampai sekarang, rasanya ada banyak hal yang patut disyukuri.

Nayyara bertumbuh, semakin mandiri, dan mulai memiliki pemahaman sendiri tentang proses belajarnya. Sementara Manda juga terus belajar menjadi orang tua yang lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

Manda gak bisa mengatakan bahwa perjalanan ini selalu mudah. Ada banyak penyesuaian, tantangan, dan kekurangan yang masih perlu diperbaiki.

Namun, sejauh ini Manda bersyukur karena anak-anak bisa bertumbuh sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam keluarga.

Manda ingin mereka senang belajar, berani mencoba, memahami apa yang dilakukan, dan gak menjadikan angka sebagai satu-satunya alasan untuk merasa berharga.

Mungkin itu juga yang membuat perjalanan pendidikan ini terasa berarti. Bukan semata-mata karena sudah hampir tujuh tahun bersama satu sekolah, tetapi karena ada proses tumbuh bersama yang terjadi di dalamnya.

Pada akhirnya, pendidikan anak bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling cepat atau paling tinggi nilainya.

Setiap anak punya perjalanan sendiri. Setiap keluarga punya cara mendampingi yang berbeda.

Dan sebagai orang tua, Manda juga masih terus belajar. Belajar memberikan ruang, belajar memahami, belajar mengevaluasi diri, serta belajar menerima bahwa menjadi orang tua yang baik bukan berarti harus selalu sempurna.

Semoga ke depannya anak-anak terus bertumbuh menjadi pribadi yang senang belajar, mengenal dirinya sendiri, dan berani menjalani prosesnya.

Karena ternyata, selama anak belajar dan bersekolah, orang tuanya pun gak pernah berhenti belajar.

SHARE 12 comments

Add your comment

  1. Samaan kek anak2ku mbak. Udah 7 tahun juga di SMM. Alasannya pun sama, dulu juga pas pandemi sempet double school :D
    Sekolah blended learning emang mulai diperhitungkan ketika covid ya, soalnya memanfaatkan kemudahan teknologi.
    Banyak yang pro kontra, ada plus minusnya, makanya nggak semua keluarga bisa menerima konsep sekolah kyk gini, kecuali yang udah yakin kek kita2 ini wkwk :D
    Setuju mbak, nilai akademik penting, tetapi yang lebih baik lagi ya tentu pemahaman terhadap materi pelajaran itu sendiri. Lalu, soal karakter, karena anak2 keknya lebih banyak sama kita, keluarganya, ketimbang sama guru, jadi udah dipastikan value-nya yaa sama dari kita haha. Walau bener nih, guru di rumahnya, kesabarannya naik turun =))
    Yaaa yang penting selalu semangat ajaaa. Semoga masa depan anak2 bagus semua aamiin :D

    ReplyDelete
  2. Bener banget sih Mbak. Jadi orangtua justru mesti banyak belajar supaya bisa membimbing anak dengan lebih maksimal.

    Pandemi merubah banyak hal termasuk dunia pendidikan. SMM ini ternyata menarik banget ya. Tapi bener sih, belajar dengan kata fleksibel justru lebih menantang. Butuh kerjasama dengan orang-orang serumah supaya anak tetap bisa belajar secara maksimal.

    Sekolah blended learning, metode yang sangat menarik serta menantang ya. Apapun itu terpenting anak bisa belajar maksimal dan memahami pembelajaran dengan baik.

    ReplyDelete
  3. Sebagai guru, membaca tulisan ini membuka wawasanku tentang SMM. Wah seandainya semua orang tua aware dan perhatian dengan pendidikan sekolah anaknya, maka pasti anaknya akan berhasil. Aku mengajar di desa yang orang tuanya kurang memotivasi anaknya. Makanya senang banget membaca effort mbak mendampingi proses belajar sang anak. Semoga sukses selalu ya mbak..

    ReplyDelete
  4. Memang pas anak sekolah, yang ikut sekolah dan berproses bukan cuma anaknya, tapi kita sebagai orang tuanya juga yang ikutan belajar dan terus menyesuaikan pandangan soal pendidikan.

    Seneng kalau liat orang tua yang wawasannya terbuka terhadap pendidikan anak, rasanya masa depan cerah gitu. Jadi orang tua memang effort gak main-main, nggak apa-apa.. udah tugasnya kita di dunia begini. Tetep semangat buat Nayyara yang sebenatar lagi mau SMP ya!

    ReplyDelete
  5. Ada satu hal yang banyak orang tua keliru memahami. Khususnya orang tua yang tinggal di desa. Ritme pembelajaran online ini juga butuh pengawasan orang tua.

    Banyak orang tua saat pembelajaran online mah membiarkan anaknya belajar online sendiri. Jadinya, kalau nggak paham dan nggak punya kesempatan bertanya ke gurunya ya udah.

    ReplyDelete
  6. Ah iya jadi ingat SMM ini hadirnya pas covid yaa. Waktu itu aku sempat juga daftar buat trial gratisnya cuma kelewatan melulu pas jadwal zoomnya karena aku kerja kan jadi ya nggak mungkin juga anakku bisa ikut zoom. Beberapa teman blogger juga anaknya sekolah di SMM ini ya dan menarik sih kalau kulihat metode pembelajarannya

    ReplyDelete
  7. Saya jadi penasaran dengan SMM ini dan model belajar bleended learning. Sepertinya menarik yaa,,,bisa belajar dengan metode lain jadi gak membosankan. Pendampingan tentu saja harus ada yaa karena ini sekolah online.

    ReplyDelete
  8. Haha, satu almamater nih anak anak kita. SMM jadi pelopor sekolah blended learning ya. Tapi in this era, kayaknya gen alpha itu lebih cocok dengan sekolah blended learning nggak sih?

    ReplyDelete
  9. Betul sekarang ini nilai akademis tidak bisa menjanjikan anak akan sukses apalagi berakhlak mulia. Jadi ada hal lain yang lebih penting sekadar nilai yang dikejar, ya

    Saya juga pernah mendampingi anak home schooling sebelum anak melanjutkan ke PMDG.

    Begitulah kita sebagai orang tua harus paham jadwal kelas yang perlu diperhatikan, tugas yang harus diselesaikan, serta komunikasi dengan wali kelas yang perlu dijaga. Apalagi kalau anaknya masih bocil...

    Koordinasi dengan wali kelas menjadi salah satu bagian penting. Orang tua perlu mengetahui dan menyampaikan perkembangan anak, memahami kebutuhan belajar, dan memastikan informasi mengenai kegiatan sekolah tersampaikan dengan baik sehingga pencapaian maksimal pembelajaran anak bisa diraih lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sekarang banyak pilihan metode pendidikan anak-anak kita. Engga harus sekolah formal, antara negeri dan swasta seperti zaman dulu. SMM merupakan pilihan yang bagus. Lagian, yg ditakutkan anak-anak engga bersosialisasi, bisa ditepis. SMM juga ada waktu-waktu on site kan. Engga melulu online.

    ReplyDelete
  11. Menarik sekali, ya, sistem seperti itu. Dan, memang dunia pendidikan itu semestinya memang berkembang menyesuaikan dengan zaman. Entah ke depan, ada perkembangan apa lagi. Yang jelas, selain anaknya yang belajar, orang tua juga perlu belajar. Ini akan menjadikan atau membuat keluarga pembelajar yang luar biasa.

    ReplyDelete
  12. Menarik nih pengalaman penggunaan sistem blended learning. Perpaduan pembelajaran tatap muka dan daring memang memberi ruang belajar yang lebih fleksibel, apalagi ketika materi, tugas, dan komunikasi dengan guru bisa diakses melalui satu aplikasi. Saya juga setuju bahwa tampilan yang ramah anak dapat membantu membangun ketertarikan mereka untuk belajar. Meski begitu, teknologi tetap perlu didampingi agar anak tidak sekadar menyelesaikan tugas, tetapi benar-benar memahami materi.

    ReplyDelete

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS