Hai hai TemaNda!
Pernah gak, kita sedang melakukan sesuatu seperti biasa, lalu tiba-tiba muncul sebuah pikiran yang sebenarnya gak ingin kita pikirkan?
Misalnya, sedang menemani anak bermain, tetapi mendadak teringat pekerjaan yang belum selesai. Sedang menikmati waktu santai, tiba-tiba terbayang kemungkinan buruk tentang masa depan. Atau ketika semuanya terasa baik-baik saja, mendadak muncul pikiran yang membuat hati gak nyaman.
Anehnya, pikiran itu kadang datang begitu saja. Gak perlu ada pemicu yang jelas. Bahkan ketika kita sudah berusaha mengalihkan perhatian, beberapa pikiran justru kembali muncul berulang kali.
Manda pernah merasa seperti sedang berdebat dengan isi kepala sendiri. Ada pikiran yang datang, kemudian langsung coba Manda bantah. Ada juga yang membuat Manda penasaran, sampai akhirnya bertanya-tanya kenapa hal seperti itu bisa terlintas.
Lama-lama Manda menyadari satu hal. Tidak semua pikiran yang muncul harus dipercaya. Sebab, apa yang terlintas di kepala belum tentu menggambarkan kenyataan. Pikiran juga bukan selalu sesuatu yang mencerminkan keinginan, niat, atau siapa diri kita sebenarnya.
Pikiran Bukan Selalu Gambaran Kenyataan
Kita sering memperlakukan pikiran seolah-olah semuanya adalah fakta. Ketika muncul kekhawatiran, kita langsung merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Ketika teringat kejadian yang tidak menyenangkan, kita kembali merasakan emosi yang sama seperti saat mengalaminya.
Padahal, pikiran dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda.
Kita bisa membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Kita juga bisa mengingat hal yang sudah berlalu, meskipun sebenarnya keadaan sekarang sudah berbeda.
Contohnya, ketika anak sedang bermain di luar rumah, tiba-tiba muncul bayangan tentang berbagai kemungkinan buruk. Padahal, saat itu anak sedang baik-baik saja dan berada dalam pengawasan.
Kalau setiap pikiran langsung dipercaya, tentu kita akan kesulitan menikmati momen yang sedang berlangsung.
Bukan berarti kita harus mengabaikan semua kekhawatiran. Ada kalanya pikiran memang membantu kita mengenali sesuatu yang perlu diperhatikan. Namun, kita juga perlu belajar memeriksa kembali apakah kekhawatiran tersebut didukung oleh kenyataan atau hanya kemungkinan yang sedang dibayangkan.
Dengan begitu, kita gak harus selalu mengikuti ke mana pikiran membawa kita.
Mengapa Pikiran Bisa Datang Berulang Kali?
Ada kalanya pikiran tertentu muncul berkali-kali, bahkan ketika kita sudah berusaha mengalihkannya.
Salah satu hal yang bisa memengaruhi kondisi ini adalah kelelahan mental. Ketika terlalu banyak hal yang harus dipikirkan, otak seperti gak mendapatkan kesempatan untuk benar-benar beristirahat.
Urusan rumah, anak, pekerjaan, keluarga, keuangan, hingga berbagai informasi dari media sosial bisa memenuhi kepala dalam waktu bersamaan.
Belum lagi kebiasaan mengonsumsi berita yang silih berganti. Hari ini kita membaca kabar yang menyedihkan, besok menemukan berita yang membuat marah, lalu beberapa menit kemudian melihat konten lain yang memancing kecemasan.
Tanpa disadari, perhatian kita terus berpindah dari satu hal ke hal lain.
Manda merasa bahwa terlalu banyak screen time juga bisa membuat kepala terasa semakin penuh. Ketika ada waktu luang, tangan sering kali otomatis mencari ponsel. Niat awalnya hanya ingin melihat satu informasi, tetapi akhirnya berlanjut membuka banyak hal.
Kita mungkin merasa sedang menghibur diri, padahal belum tentu pikiran mendapatkan waktu untuk beristirahat.
Karena itu, penting bagi kita untuk mulai mengenali kapan tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
Belajar Menyadari Pikiran Tanpa Harus Melawannya
Salah satu hal yang menarik dari praktik mindfulness adalah belajar menyadari apa yang sedang terjadi pada diri sendiri, termasuk pikiran dan perasaan.
Dalam menjalani Gaya Hidup Mindful, kita belajar untuk lebih hadir pada momen sekarang. Bukan berarti harus selalu tenang atau memiliki pikiran yang positif sepanjang waktu.
Justru, kita belajar menerima bahwa ada hari ketika pikiran terasa ramai. Ada waktu ketika kita merasa cemas, sedih, kesal, atau bingung tanpa tahu penyebab yang pasti.
Ketika pikiran yang mengganggu muncul, kita bisa mencoba berhenti sejenak dan mengenalinya.
Misalnya, mengatakan kepada diri sendiri bahwa saat ini sedang ada kekhawatiran. Setelah itu, coba periksa apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apakah ada sesuatu yang memang perlu diselesaikan? Apakah ini hanya bayangan tentang sesuatu yang belum tentu terjadi?
Kita juga bisa mencoba mengembalikan perhatian pada hal yang sedang dilakukan. Merasakan udara yang masuk ketika bernapas, memperhatikan suara di sekitar, atau menyadari aktivitas sederhana yang sedang berlangsung.
Cara ini bukan jaminan pikiran akan langsung menghilang. Namun, setidaknya kita sedang belajar untuk tidak selalu bereaksi terhadap setiap hal yang muncul di kepala.
Sebab, terkadang yang kita butuhkan bukan memenangkan perdebatan dengan pikiran sendiri, melainkan berhenti memberinya perhatian berlebihan.
Mengurangi Kebisingan Digital, Memberi Ruang untuk Diri Sendiri
Ada satu hal yang belakangan terasa semakin relevan, yaitu kebutuhan untuk mengurangi kebisingan digital.
Ponsel memang memudahkan banyak hal. Kita bisa bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, belajar, bahkan mendapatkan hiburan hanya melalui satu perangkat.
Namun, kemudahan tersebut juga membuat kita semakin sulit memisahkan waktu produktif dan waktu istirahat.
Belum selesai membaca satu informasi, sudah ada notifikasi baru. Belum selesai menikmati sebuah konten, muncul konten lain yang meminta perhatian.
Kalau terus berlangsung, kita bisa merasa seperti harus selalu mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana.
Padahal, gak semua informasi harus kita konsumsi. Gak semua berita harus kita baca sampai selesai. Dan gak semua perdebatan di media sosial membutuhkan tanggapan dari kita.
Sesekali, gak ada salahnya membatasi waktu membuka media sosial, mematikan notifikasi yang gak penting, atau meletakkan ponsel ketika sedang menikmati waktu bersama keluarga.
Kita juga bisa memilih informasi yang memang bermanfaat dan sesuai kebutuhan.
Bukan karena ingin menutup mata dari keadaan dunia, tetapi karena kita juga perlu menjaga ruang di dalam kepala sendiri.
Menemukan Ketenangan Tanpa Screentime
Sadar diri screentime sangat berpengaruh, kita bisa pilih untuk mengurangi dan mulai mengurai kemelekatan akannya. Salah satunya dengan mencoba kembali hidup analog.
Hidup analog bukan berarti kita harus meninggalkan teknologi sepenuhnya. Kita tetap bisa menggunakan ponsel dan perangkat digital untuk berbagai kebutuhan. Namun, kita juga memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati aktivitas yang gak selalu melibatkan layar.
Ada banyak kegiatan sederhana yang bisa dilakukan.
Menulis jurnal, misalnya. Kita bisa menuangkan isi kepala ke dalam buku tanpa perlu memikirkan apakah tulisan tersebut bagus atau layak dibaca orang lain.
Kadang, menuliskan apa yang sedang dirasakan membantu kita melihat masalah dengan sudut pandang berbeda. Pikiran yang sebelumnya terasa bercampur aduk bisa menjadi lebih mudah dikenali ketika dituangkan dalam bentuk tulisan.
Selain journaling, kita bisa membaca buku fisik, menggambar doodle, merapikan tanaman, memasak, atau sekedar duduk menikmati minuman kesukaan.
Aktivitas seperti ini memang terlihat sederhana. Namun, ada pengalaman berbeda ketika kita melakukannya tanpa terus-menerus memeriksa ponsel.
Kita bisa lebih memperhatikan prosesnya. Merasakan gerakan tangan ketika menulis, menikmati tekstur kertas, atau melihat garis-garis kecil yang terbentuk ketika menggambar.
Bagi Manda, kegiatan analog juga bisa menjadi kesempatan untuk kembali menikmati sesuatu tanpa tuntutan harus menghasilkan karya yang sempurna.
Gak harus produktif. Gak harus diunggah ke media sosial. Gak harus menghasilkan uang.
Ada kalanya kita melakukan sesuatu hanya karena menikmatinya.
Kita Tidak Harus Selalu Memiliki Pikiran yang Positif
Belajar berdamai dengan isi kepala bukan berarti memaksa diri untuk selalu berpikir positif.
Menurut Manda, tuntutan untuk selalu positif justru bisa membuat kita semakin lelah. Ketika sedang sedih, kita merasa harus segera bahagia. Ketika sedang khawatir, kita merasa bersalah karena gak mampu berpikir optimis.
Padahal, manusia punya berbagai macam emosi. Kita bisa merasa bahagia sekaligus takut. Bisa bersyukur sekaligus merasa lelah. Bisa menyayangi keluarga sekaligus membutuhkan waktu sendiri.
Semua itu gak harus dipertentangkan.
Begitu juga dengan pikiran yang tiba-tiba hadir. Kita gak perlu langsung menghakimi diri sendiri hanya karena memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mengenali pikiran tersebut, memeriksa kenyataannya, dan menentukan respons yang lebih sehat.
Jika pikiran yang berulang mulai mengganggu aktivitas, tidur, atau keseharian, mencari bantuan profesional juga merupakan langkah yang baik. Kita gak harus menghadapi semuanya sendirian.
Memberi Ruang untuk Pikiran, Tanpa Membiarkannya Menguasai Kita
Pada akhirnya, kita mungkin gak bisa mengatur semua pikiran yang datang. Ada hal-hal yang muncul begitu saja, bahkan ketika kita sedang berusaha menikmati hari.
Namun, kita masih bisa belajar memilih bagaimana meresponsnya.
Ketika pikiran buruk datang, kita gak harus langsung mempercayainya. Ketika kekhawatiran muncul, kita bisa memeriksa apakah ada sesuatu yang memang perlu dilakukan. Ketika kepala terasa terlalu ramai, kita boleh mengambil jeda.
Mungkin kita perlu lebih sering meletakkan ponsel, membuka buku, menulis beberapa kalimat di jurnal, atau menikmati waktu tanpa harus memikirkan banyak hal.
Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan supaya kita bisa kembali menghadapinya dengan pikiran yang lebih jernih.
Sebab, hidup bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam kepala kita. Ada banyak hal nyata yang sedang berlangsung di sekitar kita dan layak mendapatkan perhatian.
Anak-anak yang sedang tumbuh, makanan yang bisa kita nikmati, udara yang kita hirup, serta kesempatan untuk menjalani hari ini.
Jadi, ketika suatu saat ada pikiran yang tiba-tiba hadir, mungkin kita gak perlu buru-buru memarahinya atau mengikutinya terlalu jauh.
Cukup sadari bahwa pikiran itu sedang datang. Periksa apakah ia benar-benar sesuai dengan kenyataan. Lalu, perlahan kembalikan perhatian pada kehidupan yang sedang kita jalani.
Karena tidak semua pikiran harus dipercaya, dan tidak semua pikiran harus mendapatkan tempat untuk menetap.

Add your comment