Aku sudah tak marah

Walau masih teringat

Semua yang terjadi kemarin

Jadikan aku yang hari ini

Aku sudah tak benci

Walau nyatanya merugi

Terdengar tidaknya kata maaf

Dada lapang terima semua

Akan ada masa depan

Bagi semua yang bertahan

Duniaku pernah hancur

Rangkai lagi satu satu

Potongan lirik lagu Idgitaf - Satu-satu


 Hai hai TemaNda! Ada yang suka lagu ini juga? Samaan berarti, Manda suka sekali dengan lirik lagu ini. Begitu dekat dengan keadaan kita yang sedang beranjak dari pandemi, dan tengah merangkai lagi satu persatu dunia yang pernah hancur. Tapi satu yang pasti kita masih sesekali teringat akan peristiwa yang kurang enak. Sulit memang, tapi bisa, apalagi saat kita sudah memutuskan tidak marah pada keadaan dan belajar memaafkan semua, termasuk diri kita.

Memaafkan sendiri adalah tindakan luar biasa yang memiliki dampak, yang bisa jadi tidak langsung kita rasakan. Ketika seseorang memiliki keberanian untuk melepaskan dendam dan memilih untuk memaafkan, mereka membuka pintu menuju masa depan yang lebih baik, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk dunia di sekitar mereka.

Memaafkan sering dibilang sebagai satu hal yang mudah, padahal tidak semua mampu semudah itu memaafkan. Mudahnya memaafkan bisa dilakukan bila kita sudah benar-benar menerima secara rela ketetapan dan takdir kita. Tapi kalau dibilang mudah, untuk menuju ke hari ini, proses memaafkan itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Untuk hal yang tidak penting, memaafkan bisa saja sangat mudah. Tapi untuk kekecewaan yang merenggut hati kita, biasanya membutuhkan waktu untuk benar-benar damai dengan rasa kecewa itu.

Sahabat Manda pernah berkata, tanpa sadar kita sedang melakukan dosa syirik saat kita menyukai dan menaruh hati pada hal duniawi. Oleh karena itu rasa kecewa yang cukup dalam bisa terjadi. Awalnya Manda agak jleb diomongin begitu, tapi kan memang benar.

Setelahnya, Manda mulai melepaskan satu persatu kemelekatan. Tidak selalu berjalan mulus, tapi akhirnnya secara bertahap, rasa damai itu mulai hadir. Di sini Manda bisa membagikan pengalaman, pada akhirnya satu hal termudah yang bisa membuat kita memaafkan adalah dengan mengingat mati. Mengingat apa kita mau meninggal dalam kondisi membenci seseorang. Bisa saja nanti benci dan kecewa itu membuat timbangan kita nanti jadi impas, atau malah berat ke arah yang tidak diinginkan. Apa salahnnya kita mencoba untuk menambahkan timbangan kebaikan kita dengan memaafkan? Mencoba tidak pernah ada salahnya toh?



Wanita sang ahli sejarah

Pernah suatu ketika Manda sedang mencari inspirasi di sosial media, lalu tanpa sengaja menemukan tulisan kontenyang menuliskan tentang wanita adalah ahli sejarah. Konten tersebut menjelaskan betapa wanita mampu mengingat detail dan mengungkit segala kesalahan pasangan seperti baru terjadi kemarin.

Wanita sebagai makhluk ekspresif dianggap lebih mengedepankan emosi pribadi saat berhubungan dengan kesalahan. Padahal itu generalisasi yang kurang sesuai untuk Manda. Untuk saya, beberapa hal justru mudah sekali terlupa, termasuk kesalahan pasangan. Tapi juga ada beberapa hal penting yang diingat terus sampai kapanpun. Itu tidak hanya berlaku untuk wanita, melainkan lelaki pun ada yang seperti itu. Jadi potensi menjadi pengingat kesalahan pasangan menurut Manda tidak pada gender, tapi lebih kepada karakter dan niat masing-masing. Bila fokus pada solusi, kesalahan-kesalahan mampu tertutupi dengan kebaikan yang jauh lebih banyak dari keburukan, sekejap mata saja. Nah tapi apa sih sebenarnya yang mempengaruhi kemampuan memaafkan pada setiap individu.

Kemampuan Memaafkan

Ada beberapa hal yang membuat kita sulit ataupun mudah dalam memberi maaf. Kemampuan seseorang untuk melupakan atau memaafkan kesalahan masa lalu dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

Pengalaman pribadi: Pengalaman masa lalu individu dapat memengaruhi cara mereka merespons kesalahan. Pengalaman buruk dalam hubungan sebelumnya atau pengalaman traumatis bisa membuat seseorang lebih sulit untuk melupakan atau memaafkan kesalahan di masa lalu.

Pendekatan terhadap konflik: Pendekatan seseorang terhadap konflik dan kesalahan juga berperan. Beberapa orang mungkin memiliki pendekatan yang lebih cenderung memaafkan dan melupakan, sementara yang lain mungkin lebih cenderung untuk menyimpannya dalam ingatan.

Faktor psikologis: Aspek-aspek psikologis, seperti kepercayaan diri, harga diri, dan cara seseorang mengatasi emosi, dapat memainkan peran dalam kemampuan seseorang untuk melupakan atau memaafkan.

Dukungan sosial: Dukungan dari teman, keluarga, atau konselor dapat membantu individu dalam mengatasi kesalahan masa lalu dan membantu mereka untuk lebih mudah melupakan atau memaafkannya.

Kembali lagi, penting untuk menghindari generalisasi gender dan memahami bahwa kemampuan seseorang untuk melupakan atau memaafkan adalah hal yang sangat pribadi dan individual. Tidak semua wanita sulit melupakan kesalahan di masa lalu, dan banyak pria juga mungkin mengalami kesulitan yang serupa dalam konteks ini.

Manfaat Memaafkan

Memaafkan bukanlah tindakan yang mudah, namun, ketika kita memilih untuk melakukannya, kita membangun pondasi bagi masa depan yang lebih harmonis. Di sini adalah beberapa cara bagaimana masa depan tampak cerah bagi mereka yang memaafkan:

Hubungan yang Lebih Sehat: Memaafkan dapat mengubah dinamika hubungan. Ini memungkinkan kita untuk mendekati orang-orang dengan hati terbuka, menciptakan hubungan yang lebih sehat dan penuh kebahagiaan.

Kesejahteraan Emosional: Memaafkan membantu kita melepaskan beban emosional yang berat. Ini memungkinkan kita untuk merasa lebih damai, bahagia, dan lebih kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Perdamaian dalam diri dan diluar kita: Memaafkan adalah pondasi perdamaian diri dan hubungan kita dalam masyarakat. Ketika individu dan kelompok masyarakat mempraktikkan rasa damai juga  kebaikan hati, ini membantu mengurangi konflik dan kekerasan.

Perkembangan pada diri Pribadi: Memaafkan juga memberi kita kesempatan untuk berkembang sebagai individu. Ini adalah tanda kekuatan pribadi dan kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu.

Masa Depan yang Lebih Terang: Memaafkan adalah tentang melihat masa depan yang lebih terang dan bersemangat. Ini adalah tentang melepaskan belenggu masa lalu dan membiarkan potensi positif kita mengambil alih.

Salah satu yang Manda paling rasakan adalah ketika kita sudah menerima keadaan dan takdir kita, segala kebaikan satu persatu berdatangan. Sikap kita yang positif memandang dunia seakan menjadi doa dan ikhtiar yang membawa lebih banyak lagi keberkahan untuk kita. Mungkin tidak selalu membuat diri kita berada dalam situasi yang lebih mudah dari sebelumnya. Tapi sudah jelas saat kita memaafkan dan senantiasa memaafkan diri kita, kesempatan untuk hidup lebih tenang, damai, dan ajeg, dirasa lebih besar.

Dalam dunia yang seringkali dipenuhi dengan ketegangan dan permusuhan, mereka yang memaafkan adalah agen perubahan yang kuat. Mereka membuka jalan bagi kedamaian, kebahagiaan, dan kemajuan. Dengan memaafkan, kita memberi kesempatan kepada diri kita sendiri dan dunia untuk merasakan kebaikan masa depan yang lebih cerah.


SHARE 4 comments

Add your comment

  1. Katanya memaafkan itu mudah, tapi bagi sebagian orang itu tidak mudah apalagi bagi yang mudah dendam.
    Padahal dengan memaafkan, hidup kita bisa lebih tenang dan damai, yaa..

    ReplyDelete
  2. Menatap masa depan itu saya selalu teringat tentang pepatah, apa yang kamu tanam maka itu yang akan kamu panen, namun hasil panen itu tergantung bagaimana kamu merawatnya ketika tumbuh.

    Jadi perhatikan proses nya bukan hasilnya.

    ReplyDelete
  3. Setuju kalau memaafkan itu memang membuat masa depan bisa lebih terang. Karena kita bisa mengikhlaskan semuanya hingga fokusnya pada masa depan bukan masa lalu

    ReplyDelete
  4. Salah satu cara mempertahankan kesehatan mental dan jiwa, yakni dengan memaafkan. Teruma memaafkan diri sendiri di masa lalu

    ReplyDelete

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS