Hai hai TemaNda!

Dari kecil sampai sekarang, bus selalu punya ruang khusus dalam cerita perjalanan. Entah itu perjalanan antar kota yang panjang, atau sekadar naik bus kota bareng teman sekolah dulu. Rasanya ada atmosfer khas yang cuma bisa kita temukan saat duduk di kursi bus, sambil menatap jendela yang memamerkan pemandangan jalan. Bus juga jadi saksi perjuangan Manda pertama kali sekolah hingga kuliah di Kota Kembang, atau saat menjadi pekerja kantoran di Ibu Kota.

Mungkin karena Manda tipe orang yang suka memperhatikan detail kecil. Bus itu jadi seperti wadah cerita. Di dalam satu kendaraan, ada banyak orang dengan tujuan berbeda. Ada yang buru-buru pulang kerja, ada yang mau liburan, ada juga yang sekadar menumpang beberapa halte. Semua orang membawa pikirannya masing-masing, tapi untuk beberapa saat, kita berbagi ruang yang sama.

Bus juga jadi tempat Manda mencoba menganalisis perilaku manusia. Sesekali bertemu orang-orang yang kerap berpura-pura tidur di bangku prioritas. Ada juga penumpang pemula yang belum terbiasa berdiri menggengam handle grip, kadang ada yang sampai terjatuh saat laju bus cukup kencang. Belum lagi cerita bus tanpa AC yang aromanya semerbak menusuk penciuman. Ah, seru ya naik bus. Dari situ, Manda jadi berpikir, anak-anak Manda juga perlu banget berkenalan dengan moda transportasi ini.


Perjalanan dengan Bus Antara Healing, Hemat, dan Kenangan Masa Lalu

Perjalanan Pertama Bersama Nayyara

Waktu pertama kali mengajak Nayyara naik bus, itu terjadi sebelum Covid melanda, ketika MRT Jakarta baru mulai beroperasi. Rasanya masih hangat di ingatan, bagaimana kami mencoba transportasi umum dengan anak-anak yang masih kecil. Dari rumah di Serpong, kami memilih membawa mobil pribadi lebih dulu untuk parkir di Plaza Indonesia. Dari sana, barulah kami melanjutkan perjalanan dengan MRT menuju Lebak Bulus pulang pergi.

Buat Nayyara yang masih balita kala itu, perjalanan ini cukup melelahkan. Antusiasme awal sempat terlihat, tapi perlahan mulai meredup karena ritme perjalanan yang cukup padat. Apalagi saat kembali lagi ke Bundaran HI, kami kemudian memutuskan mencoba bus tingkat gratis yang disediakan pemerintah Jakarta. Suasana dalam bus yang ramai sekaligus menyenangkan jadi pengalaman baru bagi Nayyara. Dari atas bus, pemandangan jalanan ibu kota terasa berbeda, walau saat itu bus cukup penuh, tetap terasa seru.

Bus kemudian membawa kami ke kawasan Kota Tua. Di sana, kami menyempatkan diri untuk jajan ketoprak sebentar sambil menghirup udara sore. Meski tidak lama, momen itu tetap berasa serunya karena kami bersama sedang mengukir core memory.

Setelah lelah berjalan, kami akhirnya memilih kembali ke Plaza Indonesia menggunakan taksi. Heuheu, saat itu rasanya kami sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menunggu Trans Jakarta, apalagi masing-masing harus menggendong balita. Tapi dari pengalaman kecil itulah, kami belajar bahwa naik transportasi umum bersama anak bisa jadi petualangan tersendiri. Memang banyak lelahnya, tapi juga banyak tawa dan kenangan yang tersimpan rapi sampai sekarang.

Nayyara kelelahan di Halte MRT
Nayyara kecil kelelahan di Halte MRT

Bus dan Kenangan Masa Lalu

Kalau diingat-ingat, bus juga saksi bisu banyak momen penting. Dulu waktu sekolah hingga kuliah, Manda sering banget naik bus antar kota buat pulang kampung (Bandung-Serpong). Perjalanan berjam-jam itu justru jadi ruang refleksi. Kadang ketiduran sambil denger musik, kadang malah ketemu orang asing yang ngajak ngobrol panjang. Ada perasaan hangat setiap kali turun di terminal, disambut suasana kota yang familiar.

Sekarang, meskipun pilihan transportasi makin beragam, bus tetap punya daya tarik sendiri. Entah kenapa, ada romantisme yang gak bisa digantikan. Duduk di kursi bus, lihat orang-orang naik turun, dan dengar deru mesinnya, meski banyak juga hal kurang mengenakkan, tapi banyaknya bikin hati sedikit lebih tenang.

Bus sebagai Ruang Belajar

Seperti yang tadi sempat Manda sebutkan, naik bus juga bisa jadi media belajar buat kita dan anak. Kita bisa melihat berbagai karakter manusia dalam transportasi umum. Ada yang sibuk main ponsel, ada yang senyum-senyum sendiri, ada juga yang ramah ngajak ngobrol. Dari situ dia belajar kalau dunia itu luas, penuh warna, dan setiap orang punya cerita berbeda.

Selain itu, perjalanan dengan bus juga melatih kesabaran. Kita belajar menerima kalau kadang macet, kadang AC gak terlalu dingin, atau ada hal-hal kecil yang gak sesuai ekspektasi. Tapi justru dari situ kita belajar fleksibel. Dan menurut Manda, buat anak, pengalaman seperti ini bisa jadi bekal berharga. Jadi, bus bukan sekadar transportasi, tapi juga refleksi perjalanan hidup.

Ada sesuatu yang unik setiap kali kita bepergian dengan bus. Rasanya beda aja dibanding naik kereta atau pesawat. Kalau biasanya kita terburu-buru, bus antar kota itu kayak reminder untuk melambat. Duduk manis, lihat pemandangan, dengar obrolan orang lain, bahkan bisa bengong sambil mikir apa aja. Mungkin kalau bus seperti Trans Jakarta kita gak bisa terlalu bengong ya, takut kelewatan halte tujuannya nanti, heuheu.

Bus sebagai Sarana Traveling Hemat dan Ramah Keluarga

Kalau bicara traveling bareng keluarga, apalagi sama anak-anak, bus bisa jadi pilihan yang lumayan praktis. Ongkosnya lebih ramah di kantong, dan yang paling penting: kita bisa bonding. Duduk bareng, ngobrol random, ngemil, atau sekadar komentar soal pemandangan di luar kaca.

Misalnya, liburan ke luar kota. Dengan bus, kita nggak ribet harus ke bandara. Tinggal ke terminal dekat rumah, naik, lalu biarkan perjalanan membawa kita. Anak-anak biasanya happy karena sepanjang jalan ada aja yang bisa dilihat, sawah hijau, gunung, sampai kota kecil yang kita lewati. Atau kalau untuk Bandung ke Serpong banyaknya pemandangan sisi jalan tol dan rest area.

Momen sederhana gini justru sering bikin kangen. Karena ternyata bukan cuma sampai di destinasi, tapi perjalanan itu sendiri yang jadi cerita.

Healing Murah Meriah di Dalam Bus

Siapa bilang healing harus mahal? Kadang cukup duduk di kursi bus, lihat jalanan panjang, terus biarkan pikiran melayang. Ada rasa tenang yang nggak bisa didapat dari tempat fancy.

Bayangin deh, di luar jendela ada sawah yang luas, warung kecil di pinggir jalan, atau sunset oranye yang tiba-tiba muncul. Semua itu bisa bikin kita merasa lebih ringan. 

Bus Tingkat Jakarta (Dok. Jakarta Tourism)
Bus Tingkat Jakarta (Dok. Jakarta Tourism)


Bus dan Cerita Kehidupan

Naik bus selalu ada ceritanya. Bisa ketemu orang asing yang ujung-ujungnya curhat panjang, bisa belajar sabar karena bus telat, atau malah dapat momen lucu karena anak di sebelah kursi tiba-tiba ngajak ngobrol.

Setiap perjalanan bus kayak drama kecil kehidupan. Ada yang terburu-buru, ada yang santai, ada yang cuek banget tidur dari awal sampai akhir. Dari situ kita sadar kalau hidup itu penuh warna, nggak melulu sama.

Makanya, Manda sering merasa naik bus itu mirip sama hidup kita. Ada berhentinya, ada jalannya lambat, ada juga kejutan-kejutan yang bikin kita belajar buat lebih ikhlas nikmatin proses.

Sumber Inspirasi

Permah gak sih, saat kita di bus, lihat ke jendela luar, tiba-tiba pikiran kita terbang ke suatu masa yang udah lama kita lupa. Saat itu berlalu, Manda seringnya dapat berbagai macam masukan pikiran, atau malah inspirasi. Manda pernah sedang di perjalanan, gak sengaja lihat hutan bambu, lalu masuk ide pattern untuk wall treatment.

Tapi memang gak semua orang merasa hal yang sama. Beberapa merasa kurang nyaman dengan moda transportasi ini.

Tips Naik Bus agar Nyaman

Kalau mau coba perjalanan dengan bus, biar nyaman, terutama untuk perjalanan luar kota, tipsnya:

1. Pilih bus terpercaya Cari operator yang sudah terbukti aman.

2. Bawa snack dan minum Perjalanan jadi lebih seru, apalagi bareng anak.

3. Siapkan bantal leher atau jaket Lumayan buat bikin badan gak pegal.

4. Pilih kursi strategis Bagian tengah biasanya paling stabil.

5. Nikmati perjalanan Jangan buru-buru, nikmati aja setiap momen di jalan.

Bus sebagai Metafora Kehidupan

Bus itu bisa banget jadi metafora hidup. Kita naik, duduk, lalu jalan bareng penumpang lain. Ada yang turun lebih dulu, ada yang naik di tengah, ada juga yang bareng kita sampai akhir.

Mirip kan sama hidup? Ada orang yang hadir sebentar, ada yang lama. Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, tapi gimana kita menjalani perjalanan dengan hati yang penuh.

Bus itu ngajarin kita soal waktu. Perjalanannya biasanya lebih lama dibanding kereta atau pesawat. Tapi justru di situ kita belajar melambat, menerima ritme, dan nggak selalu kejar cepat-cepat.

Kadang harus sabar dengan macet, atau berhenti di terminal kecil. Hidup juga gitu kan? Ada waktunya berhenti, ada waktunya jalan pelan, ada waktunya lancar tanpa hambatan.

Refleksi kayak gini sering muncul justru pas kita duduk di kursi bus.

Penutup

Naik bus mungkin kelihatan sederhana. Tapi kalau kita mau lihat lebih dalam, banyak banget makna yang bisa diambil. Dari soal kebersamaan keluarga, healing sederhana, sampai refleksi kehidupan.

Manda percaya hal-hal kecil bisa jadi cerita besar kalau kita kasih makna. Termasuk perjalanan dengan bus ini. Jadi, mungkin setelah baca ini, kita bisa coba sesekali naik bus. Bukan cuma buat sampai tujuan, tapi buat menikmati prosesnya.



SHARE 16 comments

Add your comment

  1. Aah, indah sekalii..
    kendaraan besar, gagah, namun tetap kita kudu menunggu.
    Menunggu bus sampai, menunggu bus mengantarkan ke tempat tujuan dan menunggu menunggu yang lain.

    Kalau kendaraan nostalgia aku justru angkot sama bajaj yaa..
    Inget banget sama Ibuk Bapak dan masku jalan-jalan ke Jekarda jaman doeloe.. naiknya yaa, bajaj.. belom ada ojek online.

    Seseruu ituu naik transum yaa..
    Bisa jadi ajang belajar, berkomunikasi dengan orang lain dan memahami bahwa kebutuhan setiap orang engga sama.

    ReplyDelete
  2. Kalau bawa anak memang tuh bisa aja asal anaknya sudah bisa jalan
    Soalnya kadang kalau naik bus dan masih digendong suka hilang keseimbangan saya saat jalan menuju pintu keluar atau pas naik dan belum duduk tapi busnya sudah jalan
    Kalau kudu ke terminal biasanya lama nunggu
    Namun, dari segi harga memang murah banget

    ReplyDelete
  3. Larut membaca tulisan ini, teringat masa pertama kali ke Jakarta. Naik Bus dan selang berapa tahun kemudian, ingin mengenang perjalanan itu, iseng naik bus ke Bali.

    Setuju banget kalau perjalanan dengan bus memberi banyak kisah. Melihat akar rumput bergerak. Terutama saat pagi dan malam menjelang kehidupan rehat.

    Aku sendiri memang suka mengamati banyak hal, begitu juga naik bus, dari melihat terlahir banyak ide. Perjalanan memang memberi banyak makna dan dengan bus salah satunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap
      ide² sering bermunculan kalo lagi naik bus.
      Ajaiiibb memang.
      makanya aku suka naik Transum kalo kluar kota maupun muter² di dalam kota

      Delete
  4. Bus sudah mewarnai hidupku sejak lamaaaa sekali. Dari bus dalam kota, busbantar kota sampai antar provinsi. Dari bus ekonomi yang ramai dengan penjual asongan, sampai bus eksekutif yang nyaman dan tenang. Semuanya punya cerita tersendiri.

    Setuju sih kalau transportasi umum itu membuat kita melihat banyak macam manusia. Aku juga beberapa kali pernah mengajak anak-anak naik bus sebagai pengalaman.

    Aku suka kalimat "Entah kenapa, ada romantisme yang gak bisa digantikan". Begitu juga yang aku rasakan saat naik bus. Terutama saat sendirian.

    ReplyDelete
  5. Saya itu sering naik bus setelah merantau ke Jakarta tahun 1998 mbak. Dulu di Makassar jarang sekali. Paling saat bapak saya tugas di luar kota, lalu saya diajak teman ke kampung neneknya. Selebihnya di kra Makassar naik angkot. Ads bus DAMRI dulu. Tapi lama perjalanannya . Makanya saya awalnya tidak kuat naik bus perjalanan jauh. Mabuk hahaha.

    ReplyDelete
  6. Setuju sih mbak, bus tuh memang tempat yang sempurna untuk belajar banyak hal seputar karakter dan kehidupan manusia. Di dalamnya kita bisa banyak sekali manusia dengan ragam kesibukannya.
    Dulu aku seringnya naik bus Luragung jaya, yang dipakai untuk pulang pergi Jakarta - Kuningan. Walah, itu driver busnya udah macem Need for Speed, alias balap-balapan di jalan hahaha. Gelonya lagi, kalo lagi macet di Pantura, dia tuh bisa lho ambil jalur lawan arah dengan santainya.

    Kalo sekarang mah, untungnya udah lebih deket ya. Udah ada Bus Transjakarta, jadi kalau mau ajak anak naik bus tuh ya gampang-gampang aja si.

    ReplyDelete
  7. Biasanya aku naik kereta kalau mau ke Bogor ke rumah ortu, sejak pandemi dan aku nggak vaksin akhirnya beralih ke moda bus malam ini dan akhirnya sampai sekarang selalu naik bus dari Ungaran-Bogor karena waktu tempuh sebentar sejak ada tol, juga turunnya langsung dekat rumah..

    ReplyDelete
  8. Tapi sekarang bus sudah semakin nyaman...sebagian besar sudah menggunakan AC dan untuk perjalnanan jauh ada banyak pilihan jenis bus mau yg sleeper hingga ekonomi juga masih tersedia..
    Pengalamanku terbanyak dengan bus adalah saat kuliah karena masa itu lah aku paling banyak menggunakan moda transportasi ini secara dari rumah hanya perlu berjalan kaki sampai jalan raya dan turun bus juga tinggal jalan kaki menuju kampuus tercinta hehe
    Dan perjalanan jauhku menggunakan bus adalah perjalanan dari Solo-Jkt dan juga Solo-Dps..lama tapi menyenangkan ;)

    ReplyDelete
  9. Banyak cerita, banyak kisah saat memilih untuk menggunakan trasnportasi umum. Saya pun pernah menggunakannya beberapa kali baik itu untuk transportasi dalam kota maupun luar kota, tentunya dengan berbagai tujuan.
    Ada suka, duka kadang malah ada canda di sana. Siklus hidup ya mbak

    ReplyDelete
  10. Aku sebaliknya mba, bus ini bukan moda transportasi yg aku suka. Duluu sebelum pindah JKT, malah jadi transportasi yg aku benci dan emoh utk naik. Krn pernah ada pengalaman ga enak pas di Aceh.

    Krn dulu aku besar di Aceh, JD sekali pernah diajak naik bus, namanya Bireun Express. Mentang2 pake nama express, kecepatannya udah kayak express menuju surga lah 🤣. Ga ada rem kayaknya. Tapi selain speed yg ugal2an, aku trauma bgt liat bagian dalamnya, jorok ga usah tanya, kursi robek2, teruuuus kok yaaa aku sial bisa dpt bus, yg bagian dindingnya ada siput 🐌 lagi melata 🤣🤣🤣. Ya Allah, aku kan jijik bangetttt Ama hewan 1 itu mbaaa.

    Trus pengalaman lain naik bis, Bagian lantainya itu looh, ada hitam2 bekas permen karet. Lagi2 aku benciiii permen karet Krn ninggalin jejak hitam kalo udh kelamaan di lantai2 bus atau apapun lah. Apalagi itu bekas kunyahan orang, makin kuat jijiknya.

    Eeeh, pindah JKT, nyobain bus metromini, malah kecopetan 😂😂😂.

    Ok SIIIP, aku memang ga jodoh naik bis.

    Tapiii agak berubah pikiran saat ke Luar negeri, dan cobain bisa2 di Singapura, Malaysia, beberapa negara eropa, jepang dan korsel, naaah itu busnya cakeeep. Bersih, ga ada noda permen karet dll. Aku JD agak suka dengan bus kalo sedang traveling keluar. Tp kalo di Indonesia, sebisa mungkin aku ga naik.

    Kemarin itu aku diajak reunian ke Jogja, naik bis. Auto reject saking kuatirnya. 🤭. Bis yg aku mau naikin, cuma bis nya big bird Ama white horse. Itu doang.

    ReplyDelete
  11. Membaca tulisan mba Alien saya jadi tersadar sudah berapa tahun saya gak pernah naik bis. Sekarang bis bagus-bagus yaa apalagi bis malam, itu yang ada di foto artikel mba Alien bisnya bertingkat seruu juga yaa naik bis tingkat. Ada juga bis yang bisa buat tidur yaa, saya pernah melihat videonya di instagram. makin nyaman aja naik bbis di masa kini.

    ReplyDelete
  12. Sebetulnya aku agak jarang naik bus semasa kecil karena keseringan rute kami lebih ramah sama kereta api. Tetapi di masa bekerja, sering kali selepas naik KRL lanjut Tije. Jadi cukup familiar dengan naik Bus. Walau rutenya dekat tapi macetnya beuh bikin perjalanan jadi lama hehehe.

    Pernah juga coba bus malam ke Cirebon dan ternyata enjoy banget ya. Setuju kalau bus bisa dijadikan ruang bertemu banyak karakter orang dan ruang refleksi juga. Bahkan aku sering Nemu ide judul artikel saat mengamati situasi di dalam bus.yup tepatnya ruang inspirasi juga ya. Intinya emang mesti peka dan detail memperlhatikan sekeliling.

    ReplyDelete
  13. Kebayang sih naik bus dan posisinya lagi bawa anak yang masih babby, cuman setelah ini semuanya jadi cerita dan kenangan. Bisa diceritain ke anak pas dia udah gede. Memang naik bus seperti metafora kehidupan. Ada yang datang dan pergi, ada yang naik dan turun, apakah kitavbisa menikmati sepanjang perjalanan sambil melihat sekitar atau terus kesal karena macet atau lama di perjalanan. Semua tergantung reaksi kita sendiri. Begitu juga hidup. Setuju dengan tulisan Manda ini. Btw sehat-sehat ya Ade, kecil, Manda dan keluarga semuanya. Moga nanti kita bisa ketemu lagi di event yang sama

    ReplyDelete
  14. Sekarang, aku jarang mau pergi jauh pakai bus, better pilih kereta
    Apalagi klo sama anak anak, kudu banyak yg dipersiapkan klo naik bus
    Hehe
    Tapi pengen sih, cobain sleeper bus

    ReplyDelete
  15. Kalau naik bus sama anak2 belum pernah yang benar2 bus gitu, cuma naik bus linknya BSD doank hehe. Kalau transum bus kek Tije jarang, soalnya emaknya suka keder naik Tije dibandingkan naik KRL =))
    Selain itu halte dan jembatannya kadang kyk belum friendly ya, tapi ini pendapatku aja sebagai yang jarang naik bus Tije itu. Kalau yang udah biasa sih ya bakal ngrasa B aja.
    Tapi kalau ada temen yangh ke mana2 naik Tije biasanya suka nebeng minta temenin.
    Suka aja sih di transum, selain bayarnya murah, juga karena bisa ketemu banyak orang, bisa lebih leluasa lihat2 kondisi jalan juga. Tetapi kadang kalau lagi buru2 emang gak pakai kendaraan ini karena rutenya ada yang muter jauh hehe.
    Zaman aku kecil mayan sering dulu mudik naik bus, sebelum bapakku punya mobil. Mana perjalanannya jauh bisa 8-9 jam itu pun kudu transit terminal lain dulu haha.
    Aku juga lagi pengen deh ngajakin anak2 naik bus gitu dari Jakarta, semoga kapan2 bisa kesampaian.

    ReplyDelete

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS