Hai hai TemaNda!
Kalau ada fase kehidupan yang benar-benar bikin kita merasa seperti sedang sekolah ulang, mungkin fase punya anak praremaja adalah salah satunya. Di usia inilah, anak makin cepat berubah emosinya, kebiasaannya, cara bicaranya, bahkan caranya memandang dunia. Dan jujur aja, sebagai ibu, kita sering cuma bisa berdiri di tengah riuh itu sambil bilang dalam hati, “Ini anak lagi kenapa, ya? Dan aku harus gimana?”
Tulisan ini bukan tutorial. Bukan panduan. Dan bukan juga tips dari posisi “lebih tahu”. Justru sebaliknya. Ini catatan hasil belajar Manda. Karena jujur saja, Manda sendiri sedang cukup kewalahan menghadapi dinamika anak yang sedang menuju masa remaja. Ada hari yang hangat, ada hari yang terasa seperti kita sedang main tebak-tebakan dengan mood swing yang datang tanpa aba-aba.
Tapi di tengah semua itu, Manda mulai belajar tentang dua hal yang pelan-pelan mengubah cara Manda melihat hubungan ibu-anak, yaitu kesehatan mental dan energi. Dua hal yang ternyata sangat berkaitan.
Ketika Kita Sadar Mental dan Energi itu Menyatu
Belakangan ini, setelah membaca dan belajar dari berbagai sumber, termasuk artikel tentang kesehatan mental, fisik, dan energi dalam perspektif TCM dan art therapy, yaitu tulisan dari terapis energetik. Lalu Manda mulai sadar bahwa emosi itu sebenarnya bentuk energi bergerak di dalam tubuh. Dan anak praremaja? Energinya gede banget, tapi belum stabil.
Kadang Manda melihat anak diam saja, tapi rasanya energinya “bising”. Kadang terlihat tenang, tapi tubuhnya tegang. Kadang marah cepat sekali, padahal penyebabnya sepele banget. Dari sinilah Manda pelan-pelan belajar bahwa mungkin bukan soal “nakal” atau “bikin pusing”, tapi memang energinya belum punya jalur yang teratur.
Sama seperti kita waktu dulu usia mereka, hanya bedanya sekarang distraksi dan tekanannya lebih besar. Apalagi di era media sosial, sekolah, teman sebaya, ekspektasi, perbandingan, dan rasa ingin diakui.
Dan ya… kadang kita sebagai ibu pun energinya sama tidak stabilnya.
Baca juga :
https://www.aliendasophia.com/2025/08/mengembalikan-mood-anak-perempuan-pra.html
Ibu yang Lelah Berarti Rumah yang Ikut Lelah
Ini bagian yang agak nyelekit untuk Manda sendiri. Karena Manda sadar, energi kita sebagai ibu itu sangat berpengaruh ke suasana rumah.
Kalau kita capek, butek, atau emosional, anak praremaja bisa menangkap itu secepat radar. Dan walaupun mereka belum bisa mengatakannya secara gamblang, energi mereka berubah mengikuti kita. Mereka menjadi defensif, menutup diri, atau meledak duluan.
Itu sebabnya, sebelum bicara soal bagaimana anak mengatur energi dan emosinya, Manda belajar memahami energi Manda sendiri dulu. Walaupun masih banyak gagalnya, tapi rasanya sedikit demi sedikit membantu.
Cara yang Sedang Manda Coba
Sebetulnya ini bukan tips. Ini catatan proses. Ditulis untuk mengikat ilmu dan mungkin saja siapa tau di luar sana ada ibu yang sedang merasa sendirian menghadapi anak praremaja. Kita jalan bareng, ya.
1. Mulai dengan cerita, bukan ceramah
Anak praremaja tidak suka digurui. Jadi Manda mencoba membuka obrolan lewat cerita ringan, misal nih :
“Hmm, hari ini energi Manda swing gitu deh Kak. Capek tapi kepala kaya berisik aja gitu.”
Kadang dia menanggapi. Kadang tidak. Tapi setidaknya pintu komunikasinya tetap terbuka.
2. Check-in emosi, tapi santai aja
Bukan sesi formal, bukan deep talk. Cuma tanya ringan:
“Energi kamu gimana hari ini? ” atau "Apa yang Kakak rasa setelah sekolah tadi?"
Kalau dia bilang “biasa aja”, itu pun sudah cukup. Yang penting dia tahu bahwa di rumah adalah tempat untuk jujur tentang perasaan. Karena di rumah ada Mandanya yang juga jujur tentang perasaannya.
3. Belajar mendengarkan tanpa buru-buru memberi solusi
Ini susah banget sih. Naluri ibu itu kan ingin memperbaiki ya. Tapi sekarang tuh lagi belajar menahan diri untuk gak langsung nyamber:
“Harusnya kamu tuh…”
“Makanya lain kali…”
"Ih dosa tau...."
Kadang yang anak butuhkan hanya ruang aman untuk bercerita. Jangan nanya banyakan gagal apa berhasilnya, haha.
4. Bahasa energi yang sederhana
Ini juga hasil belajar ya dan belum konsisten. Manda pakai kalimat-kalimat yang gak terasa menggurui, misal:
“Kalau badan capek tapi tidak ngantuk, itu biasanya energi lagi turun.”
“Kalau Kakak gelisah tapi tidak tahu kenapa, mungkin emosinya belum keluar.”
Pelan-pelan, anak mulai paham bahwa perasaan itu bukan musuh. Validasi semua perasaan saja, itu sudah cukup.
5. Aktivitas non-verbal
Karena tidak semua anak mau curhat:
- Menggambar bareng
- Beberes meja belajar
- Stretching ringan
- atau cuma duduk dekat-dekatan sambil main HP masing-masing
Ternyata kedekatan itu tidak selalu butuh kata-kata.
Metode Terapi Energetik
Ada banyak metode yang Manda temui saat membaca breathwork, grounding, art therapy, hingga pendekatan energetik lain. Setelah membaca beberapa artikel yang sudah Manda sebutkan tadi, ada beberapa yang sepertinya bisa dipelajari bareng Nayyara si gadis praremaja.
Breathwork sederhana
Ini sebetulnya sudah Manda coba ajarkan semenjak anak-anak Manda belajar regulasi emosi. Yaitu melatih napas, terutama sedang merasa emosinya negatif. Caranya bisa dengan napas kotak (4 hitungan tarik–tahan–buang–tahan).
Bagus untuk meredakan panik kecil dan emosi yang sedang penuh. Berbagai metode pernapasan secara sadar memang terbukti bisa melegakan emosi yang memuncak.
Grounding
Jejakkan kaki, tarik napas, sadari tubuh.
Cocok buat anak yang mudah overwhelmed. Ini juga sedang Manda sering anjurkan anak-anak lakukan di rumah, membiasakan barefoot di taman dan melakukan berbagai kegiatan bersama saudara atau nenek.
Art therapy ala rumahan
Tidak harus pandai menggambar. Ini sebetulnya gak perlu diajarkan, karena anak-anak Manda suka sekali menggambar. Yang penting anak tidak ragu untuk mengeluarkan ekspresi.
Kadang apa yang tidak bisa dikatakan, bisa dikeluarkan lewat garis, warna, atau bentuk.
Energi healing ringan
Yang ini kita ibaratkan seperti “reset”.
Tidak menggantikan psikolog atau medis, tapi bisa jadi pelengkap saat kita dan anak butuh ketenangan. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan. Misalnya meditasi ataupun tapping.
Ketika Kita dan Anak Sama-Sama Belajar
Yang Manda pelajari adalah hubungan dengan anak praremaja tidak bisa dipaksa manis terus. Ada kalanya kita salah paham, ada kalanya kita menjauh dulu untuk menenangkan diri.
Dan itu normal.
Saat ini Manda sedang mencari pola bersama bereksperimen, menyesuaikan, dan kadang harus memulai dari awal lagi.
Yang penting bagi Manda adalah anak harus selalu tahu bahwa energi rumah itu aman untuk mereka pulang. Walaupun mereka marah, diam, atau sedang bingung jadi diri sendiri.
Pernah gak kita ngerasa lebih meletup-letup saat di rumah, setelah seharian di sekolah happy happy. Ya itu dua-duanya adalah kita. Kita yang sedang senang di sekolah bersosialisasi, dan kita yang marah di rumah karena sudah habis energi baterai sosialnya. Tapi itu menandakan, kita merasa aman, bisa menunjukan apapun. Emosi dan energi kita valid. Kalau untuk Nayyara, bila dia sudah mulai gak jelas marah-marah, Manda ingatkan ada cara lain yang bisa ia lakukan, misalnya bicara baik-baik.
Kegiatan yang Ingin Dibiasakan
Semoga bisa konsisten ya. Katanya hal-hal kecil yang menjaga energi tetap selaras.
- stretching 3–5 menit sebelum tidur
- memakai body lotion wangi favorit untuk merilekskan diri
- beberes satu sudut kecil rumah bareng-bareng
- duduk 10 menit tanpa gadget
- minum air hangat sambil ngobrol ringan
Namanya latihan kan, kadang dilakukan, kadang tidak.
Baca juga :
https://www.aliendasophia.com/2025/11/cerita-9-bulan-pasca-melahirkan-di-usia.html
Penutup.
Latih, validasi, terus coba.
Menghadapi anak praremaja itu membuat kita menyadari bahwa menjadi ibu bukan tentang selalu benar.
Justru tentang keberanian untuk tumbuh lagi, memahami lagi, dan menyesuaikan lagi.
Manda percaya bahwa selama energi kita kembali pada niat yang lembut. Mendoakan, mencintai, merangkul, mendengarkan maka hubungan ini akan tetap menemukan jalannya.
Kita tidak harus sempurna.
Kita hanya perlu hadir.
Dengan energi yang jujur dan hati yang terbuka.
Punya pengalaman serupa? Atau punya pendapat lain? Tulis di komentar yuk kita ngobrol!
.jpg)
Add your comment