Hai hai TemaNda!

Belakangan ini, istilah Flamingo Era mulai banyak dibicarakan di media sosial. Awalnya Manda mengira ini hanya tren sesaat seperti banyak istilah lain yang datang dan pergi. Namun setelah membaca dan mengamati lebih jauh, ternyata konsepnya cukup menarik, terutama bagi ibu-ibu yang anaknya mulai beranjak remaja.

Kalau beberapa tahun terakhir kita sering mendengar istilah soft life, slow living, atau healing era, maka Flamingo Era memiliki nuansa yang sedikit berbeda.

Flamingo Era menggambarkan fase ketika seorang perempuan menjadi istri dan ibu lalu akhirnya mulai kembali memikirkan dirinya sendiri setelah bertahun-tahun fokus merawat dan membesarkan orang lain.

Banyaknya tantangan selama melewati fase-fase tersebut membuat menariknya ini untuk dimengerti.

Flamingo Era Ketika Anak Remaja


Apa Itu Flamingo Era?

Flamingo Era ini sebetulnya metafora yang lagi ramai banget di media sosial (seperti TikTok, Instagram, dan Lemon8) untuk menggambarkan Flamingo Era itu metafora yang memang lagi ramai banget di media sosial (seperti TikTok, Instagram, dan Lemon8) untuk menggambarkan fase kehidupan seorang perempuan setelah menjadi ibu (motherhood).

​Istilah ini diambil dari fenomena alam burung flamingo. Burung flamingo aslinya punya bulu merah muda (pink) yang sangat cerah dan cantik. Tapi, saat mereka punya anak dan menyuapi bayinya, nutrisi serta energi mereka terkuras habis sampai-habis warna pink di bulunya memudar jadi putih atau abu-abu. Baru nanti setelah anaknya mandiri dan bisa cari makan sendiri, warna pink cerah itu bakal balik lagi.

Jika selama bertahun-tahun energi, waktu, dan perhatian lebih banyak tercurah untuk anak, pasangan, keluarga, atau pekerjaan, kemunculan warna pink cerah identik juga dengan muncul dorongan untuk kembali mengeksplorasi diri.

Bukan karena tidak mencintai keluarga. Bukan karena bosan menjadi ibu. Melainkan karena ada ruang baru yang mulai terbuka.

Kemunculan kembali warna pink pada Flamingo sendiri sering diasosiasikan dengan warna yang cerah, keanggunan, dan kemampuan untuk tetap menonjol di tengah keramaian. Dalam konteks ini, Flamingo Era menjadi simbol bahwa perempuan tidak harus menghilang setelah menjadi ibu. Karena kelak ia akan kembali cantik, mempesona dan berdaya.

Kita tetap berhak memiliki mimpi, minat, dan identitas pribadi.

Oh iya sebelum lanjut TemaNda bisa simak Catatan Harian Rani R Tyas untuk  tips parenting modern menarik.

Ketika Anak Mulai Remaja, Hidup Ikut Berubah

Saat anak masih kecil, hampir seluruh hidup kita berputar di sekitar mereka. Mulai dari jadwal makan, jadwal tidur, sekolah, imunisasi, les, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari. Hari terasa penuh. Kadang bahkan terlalu penuh.

Lalu tanpa terasa, anak-anak mulai tumbuh. Mereka mulai memiliki sahabat sendiri. Mulai menyimpan rahasia kecil. Mulai menghabiskan waktu di kamar. Mulai lebih senang berbincang dengan teman sebaya.

Sebagai ibu, kita tentu masih dibutuhkan. Tetapi bentuk kebutuhan itu berubah. Dan perubahan itulah yang sering menciptakan ruang kosong yang sebelumnya tidak ada.

Ruang yang kemudian diisi oleh pertanyaan-pertanyaan baru.

"Sekarang aku mau melakukan apa?"

"Apa yang sebenarnya aku sukai?"

"Mimpi apa yang dulu sempat tertunda?"

Mencari Jati Diri Lagi Bukan Berarti Krisis Identitas

Kadang kita merasa aneh ketika mulai mempertanyakan hal-hal tersebut. Apalagi jika selama ini kita sudah merasa nyaman menjalani peran sebagai ibu. Namun sebenarnya ini bukan tanda krisis identitas. Ini hanya bagian alami dari perjalanan hidup.

Sama seperti anak remaja yang sedang mencari jati diri mereka, ibu juga sedang memasuki fase pertumbuhan yang berbeda. Kita bukan kembali menjadi orang yang sama seperti sebelum menikah atau sebelum punya anak.

Kita sedang membangun versi baru dari diri kita berdasarkan seluruh pengalaman hidup yang telah dilalui.

Mengapa Banyak Ibu Mulai Tertarik pada Hobi Lama?

Salah satu ciri Flamingo Era saat kembalinya warna pink yang paling sering terlihat adalah munculnya kembali minat yang dulu sempat tertunda. Tiba-tiba kita ingin menulis lagi. Ingin belajar melukis. Ingin membuat blog. Ingin membuka usaha kecil. Ingin traveling. Ingin membaca buku yang selama ini hanya menumpuk di rak.

Atau mungkin ingin belajar sesuatu yang sama sekali baru. Kembali menghabiskan waktu untuk merawat diri dan terlihat trendy juga banyak terjadi pada fase ini. Tren pun lalu bermunculan untuk menampilkan transisi sebelum dan sesudah kembali glow up terkait Flamingo Era ini. Menariknya, fase ini sering muncul tepat ketika anak mulai lebih mandiri. 

Bukan kebetulan. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kita memiliki sedikit ruang untuk mendengarkan suara hati sendiri. Kita memiliki waktu lebih lama untuk lebih memanjakan diri.

Dari "Ibu Nya Siapa" Menjadi Diri Sendiri Lagi

Ada satu hal yang cukup menyentuh ketika memasuki fase ini. Kembalinya nama kita. Mungkin saat kita lebih dikenal sebagai Ibu anak kita membuat kita mulai terbiasa dengan sebutan "Ibu", "Bunda", "Umi" atau "Mama". Mendengar nama kita disebut bisa jadi membawa kita ke masa lampau. Yang lalu mengingatkan bahwa di balik semua peran tersebut, ada individu yang juga layak dikenal.

Ada perempuan yang punya minat. Punya bakat. Punya mimpi. Punya cerita. Punya tujuan yang tidak selalu berkaitan dengan mengurus pribadi lain.

Tidak Harus Menjadi Pengusaha atau Influencer

Ketika membahas pencarian jati diri, sering muncul tekanan bahwa kita harus melakukan sesuatu yang besar. Padahal tidak demikian.

Kembalinya warna pink dalam Flamingo Era tidak harus diwujudkan dengan membangun bisnis besar atau memiliki ribuan pengikut media sosial. Bisa jadi bentuknya sangat sederhana.

Mungkin mulai rutin membaca buku lagi. Mungkin menulis jurnal. Mungkin belajar membuat doodle. Mungkin berkebun. Mungkin berjalan pagi tanpa terburu-buru. Mungkin menikmati secangkir kopi sambil membaca artikel favorit.

Yang penting adalah adanya koneksi kembali dengan diri sendiri. Kembali bersinar, kembali berbinar.

Justru Ini Bisa Menjadi Fase yang Menyenangkan

Banyak orang takut bertambah usia. Padahal ada hal menarik yang sering datang bersama usia yang lebih matang. Kita menjadi lebih mengenal diri sendiri. Lebih tahu apa yang penting. Lebih berani mengatakan tidak. Lebih sedikit terpengaruh oleh penilaian orang lain.

Dan yang paling penting, kita mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan.

Mungkin karena itulah banyak perempuan merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri di usia akhir 30-an atau 40-an dibandingkan saat masih berusia 20-an. Ada waktu saat Manda berharap wisdom ini mampu dimiliki di usia lebih muda. Tapi kan ya itulah hidup.

Bukan Tentang Meninggalkan Peran Sebagai Ibu

Ada satu hal yang Manda pahami. Kembalinya warna pink dalam Flamingo Era bukan berarti kita berhenti menjadi ibu. Bukan berarti kita mengurangi kasih sayang kepada keluarga.

Justru sebaliknya.

Ketika kita memiliki kehidupan yang lebih seimbang, kita sering kali menjadi ibu yang lebih bahagia dan lebih tenang. Karena kebutuhan emosional kita juga ikut diperhatikan. Pada akhirnya, ketika anak mulai remaja, sebenarnya bukan hanya mereka yang sedang tumbuh. Kita juga.

Mereka sedang belajar menjadi pribadi yang mandiri. Sementara kita sedang belajar menemukan kembali diri yang mungkin sempat tersembunyi di balik kesibukan bertahun-tahun.

Dan Manda rasa inilah makna mendalam dari perumpamaan wanita dalam Flamingo Era. Bukan tentang terlihat lebih muda atau mengikuti tren tertentu.

Melainkan tentang kembali melebarkan sayap, menemukan warna hidup yang baru, dan menyadari bahwa setelah sekian lama merawat orang lain, tidak ada salahnya jika sekarang kita juga mulai merawat mimpi-mimpi kita sendiri.


SHARE 0 comments

Add your comment

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS