Hai hai TemaNda! 

Pergantian tahun masehi sudah di depan mata. Musim dan cuaca seakan turut mendukung perubahan ini.


Banyak musibah terjadi menjadi headline berita yang kita baca akhir-akhir ini. Tidak hanya itu, rasa tak habis sabar kita menghadapi musibah yang datang begitu dekat. 


Bijak menghadapi masalah musibah


Tapi bagaimana yah cara bijak menghadapi musibah yang rasanya begitu datang silih berganti. 


Bagi Manda pribadi berbagai berita musibah setiap bulannya menyapa sejak awal tahun 2020. Mengguncang, sudah pasti, apalagi masa pandemi ini tidak kunjung berakhir dan masa karantina masih terus berlangsung. 


Yuk bahas bersama beberapa tips berikut yang Manda coba terapkan untuk tetap bijak menghadapi musibah.


 

1. Tetap Tenang dan Mengatur Nafas


Panik adalah hal yang paling sering terjadi ketika kita menerima musibah ataupun berita musibah yang dialami orang lain. 


Banyak yang ingin kita lakukan dalam satu waktu, dan otak tidak berhenti berpikir apa yang akan terjadi, mengapa ini terjadi, dan apa saja yang bisa kita lakukan. 


Pertama-tama, mari tenang, atur nafas, dan ganti posisi tubuh. Bila kita sedang berdiri, duduklah. Bila kita duduk, berbaringlah, dan seterusnya. 


2. Sadari dan Terima Emosi yang Hadir


Emosi yang hadir bisa jadi sangat membuncah bahkan meledak. Rasanya tidak jarang kita menjadi kewalahan dan bersikap emosional. 


Tidak apa-apa, terima saja. Sadari emosi itu muncul karena hal yang normal. Letakkan tangan di dada dan ingatkan diri anda bahwa tidak apa-apa untuk merasa seperti ini. Bila terasa sangat berat, ambilah waktu untuk sendiri. Komunikasikan dengan orang terdekat tentang apa yang rasakan dan apa yang kita butuhkan. 


3. Ambilah Waktu Tanpa Tergesa-gesa


Bisa jadi seketika itu juga muncul rasa bersalah karena menjadi emosional dan merutuki diri karena seolah tidak menerima ketetapanNya. 


Ini yang bisa Manda katakan, tidak apa-apa bila belum bisa menerima keadaan. Sesaat, silahkan pikirkan dulu diri sendiri dan apa yang terbaik untuk diri ini. Bukan untuk bersikap egois, tapi justru untuk bisa kembali berempati. Karena empati dimulai kepada diri sendiri sebelum lalu bisa berempati kepada orang lain. Carilah hal yang mungkin bisa membuat diri kita merasa lebih baik, apapun itu. 


4. Dalam Diam Tetaplah Memanjatkan Doa


Ada beberapa hal terkait emosi yang bisa jadi sulit untuk diungkapkan. Maka dalam diam tetaplah lantunkan doa-doa. Menjadi bijak bukan berarti selalu berdaya, tapi bisa juga untuk menyadari saat diri dalam kondisi tidak mampu. 


Minta selalu bantuan kepada Yang Maha Pengasih. Ucapkan nama-nama baikNya yang selalu berdaya dan membuat hati kita mampu lebih baik. Dalam bisikan terkecil sekalipun, pasti terdengar, maka bisikan doa-doa dalam keyakinan. 


5. Fokus Pada Solusi Bukan Masalah


Sepertinya ini jadi kata kunci untuk setiap tantangan. Saat kita berfokus pada jalan keluar dan solusi, kita menjadi lebih berenergi dibanding saat kita fokus pada masalah. 


Walau mungkin dalam kondisi terengah-engah sekalipun, saat kita memutuskan untuk mencari solusi, apa yang mampu kita kerjakan, itu akan menjadi bahan bakar bagi semangat kita. 


Ada kalanya kita terus memikirkan hal seperti "Harusnya gini, bukan gitu."


Nah ini yang namanya sedang mengeluhkan nasib.


Karena hal yang gitu akan tetap terjadi, dan hal yang gini selamanya tidak terjadi. Kenapa? Karena hal tersebut sudah terjadi. Yang sudah terjadi dan yang dilakukan orang lain adalah di luar dari kendali kita. Mencoba merubahnya adalah hal yang mustahil. Tapi kita bisa melakukan apa yang kita bisa. Kita bisa fokus pada porsi yang bisa kita kerjakan, dan menjadi tetap berpikir terbuka. 


Contoh kasus, keluarga kita terkena musibah, namun kita tidak mendapat izin suami untuk keluar rumah. Saat kita memilih untuk kesal pada suami yang tidak memberi izin, itu hanya sia-sia dan jadinya frustasi. Beda dengan memilih untuk mencoba berdialog dengan suami, mengutarakan isi hati, berkata kita sangat ingin berada di sana.


Bisa jadi hasilnya berbeda. Bedanya apa? Pertama, mungkin suami bisa ikut mencari solusi agar kita bisa bertemu dengan keluarga kita. Sekalipun tidak, kita tidak akan mangkel karena sudah mencoba mengutarakan dan bukan memendam apa yang kita rasa. 


6. Sabar dan Ibadah


Hanya dua itu yang selalu menjadi cara terbaik menghadapi segala musibah yang berat. Yaitu dengan menjadi sabar dan tetap menjaga komunikasi dengan Yang Maha Kuat. 


Kenapa porsi penting ini Manda tidak letakkan di poin awal? Karena sabar dan ibadah perlu dilakukan dalam keadaan sadar dan tulus ikhlas.


Oleh karena itu pentingnya menyadari hal yang terjadi dan menerima ketetapan ini dengan hati besar dapat membantu sabar, sadar dan tulus ikhlas. 


7. Ujian Selalu Bersama Kemudahan


Ujian memang tidak pernah salah memilih pribadinya. Karena semua sudah diatur sesuai dengan kemampuan kita. Yakin kita bisa menghadapinya dan setelahnya akan datang kemudahan dan hikmah. 


Tapi balik lagi, di awal kita tidak bisa langsung menerima ini, karena yang dirasa bisa jadi sangat berat. 


Untuk bisa langsung ke tahap ini adalah sebuah proses yang membutuhkan latihan. Daya tahan kita menghadapi masalah laksana otot yang perlu terus dilatih. Jadi saat menerima masalah, katakanlah ini bukan masalah, melainkan tantangan. 


Tantangan yang perlu kita selesaikan. Misi yang perlu kita tuntaskan untuk naik satu tingkat lebih tinggi. 


Kamu banyak banget kena musibah, banyak dosa kalik, Tobat gih - Miss Julids


Well, ini jangan sampe kita ngomong gini ke orang lain yak. Hehe, semoga kalau yang seperti ini munculnya dari diri kita sendiri sehingga bisa langsung merubahnya. Walau ya, yang dikatakan Miss Julids tadi tidak salah, tapi caranya belum tentu sesuai bagi setiap orang ya. 

Usahakan kita tetap santun untuk menjadi bijak. Bukan hanya kepada orang lain, tapi kepada diri kita sendiri. 


8. Perbaiki Diri Setiap Harinya


Bisa jadi musibah datang untuk mengingatkan kita untuk menjadi diri lebih baik dari hari sebelumnya. Ada banyak hikmah yang hadir di setiap musibah. 


Bila dihadapkan dengan musibah kehilangan anggota keluarga misalnya, kita diingatkan untuk selalu ingat dengan kematian. 


Benar tadi kata Miss Julids, bisa jadi kita diminta untuk segera berbenah diri, mungkin ada khilaf dan salah yang perlu diperbaiki. Agar kelak tidak jadi tanggungan di hari perhitungan. 


Contoh kasus saat kita dapat musibah kehilangan uang. Kita bisa mulai membiasakan untuk berpikiran positif. "Ah ya, lain kali harus lebih apik dan waspada. Ah ya, bisa ditambah lagi sedekah kita. Ah ya, semoga yang menemukan bisa lebih memanfaatkan uang tersebut. "


Bukan untuk menggampangkan, tapi agar kita bisa lebih tenang. Manda juga banyak sekali belajar dari beberapa peristiwa satu tahun belakangan ini. Rasanya bertubi-tubi musibah terjadi. Dari mulai berita musibah di keluarga, hingga yang menimpa diri sendiri. 


Berat? Ya, berat. Tidak serta merta mampu menerima. Tapi kita bisa memilih untuk mengerti bahwa yang terjadi berarti harus terjadi. Yang terjadi, dan berat, akan mengasah kita untuk menjadi lebih kuat. 


Ada yang punya tips dan pengalaman sejenis? Boleh dong tulis di komentar ya! 




SHARE 0 comments

Add your comment

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS