Hai hai TemaNda!
Menjadi orang tua adalah perjalanan yang penuh kejutan yaa. Sebelum memiliki anak, mungkin banyak dari kita membayangkan bahwa parenting adalah tentang mengajarkan berbagai hal kepada anak, mulai dari cara bersikap, mengambil keputusan, hingga menghadapi tantangan hidup. Namun setelah benar-benar menjalaninya, Manda menyadari bahwa parenting ternyata bukan hanya tentang mendidik anak. Di dalamnya ada proses bunda belajar setiap hari, belajar memahami diri sendiri, belajar mengelola emosi, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai harapan.
Dulu, Manda sering berpikir bahwa menjadi ibu yang baik berarti harus selalu sabar, selalu tahu jawaban yang benar, dan selalu bisa mengambil keputusan terbaik untuk anak. Rasanya seperti ada standar yang harus dipenuhi setiap saat. Ketika berhasil, hati terasa lega. Namun ketika melakukan kesalahan, tidak jarang rasa bersalah datang menggerogoti kewarasan.
Seiring waktu, pandangan itu perlahan berubah. Manda mulai memahami bahwa kesalahan bukanlah tanda kegagalan dalam parenting. Justru dari kesalahan-kesalahan kecil itulah bunda belajar banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita jalani. Kesalahan parenting yang mungkin membuat kita tersentak, tapi lalu membuat kita mampu melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Yang kemudian membuat menyusun ulang strategi agar menjadi lebih baik ke depannya.
Belajar Lebih Mendengar
Salah satu kesalahan yang pernah Manda lakukan adalah terlalu cepat memberikan solusi. Saat anak datang bercerita tentang masalahnya, naluri seorang ibu sering kali langsung aktif. Kita ingin membantu. Kita ingin masalahnya selesai. Kita ingin anak merasa lebih baik. Akhirnya, tanpa sadar kita langsung memberikan saran bahkan sebelum anak selesai bercerita.
Padahal, ada kalanya saat itu anak tidak sedang mencari solusi. Bisa jadi mereka hanya ingin didengarkan. Mereka ingin merasa bahwa perasaannya diterima tanpa harus segera diperbaiki. Kesadaran itu tidak datang dalam satu malam. Butuh beberapa momen dan beberapa kesalahan sampai akhirnya Manda mengerti bahwa mendengarkan adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana sekaligus paling berarti.
Selain itu teburu-buru menjawab juga biasanya dikarenakan Manda sedang sibuk dengan urusan lain dan tidak fokus mendengarkan. Padahal ini bisa membuat mereka merasa kurang dihargai. Sesekali Mysha protes soal ini.
Dari situ Manda mulai interospeksi dan belajar lebih mendengarkan. Ya kalau saat anak butuh didengar tapi kita masih ada urusan lain dan belum bisa fokus, kita bisa minta waktu dulu untuk nanti bisa mendengarkan utuh.
Belajar Menghargai Pendapat
Pelajaran berikutnya datang saat anak mulai tumbuh lebih besar dan memiliki pendapat sendiri. Ketika masih kecil, keputusan banyak berada di tangan orang tua. Namun semakin bertambah usia mereka, semakin terlihat bahwa anak juga memiliki cara berpikir, pertimbangan, dan keinginan yang layak dihargai.
Kadang sebagai orang tua, kita merasa lebih tahu karena memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak. Itu memang benar. Namun bukan berarti setiap pendapat anak harus disanggah atau diperbaiki. Ada kalanya mereka hanya membutuhkan ruang untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
Manda pernah berada di titik ketika merasa harus mengarahkan hampir segala hal. Niat dan tujuannya baik, yaitu agar anak tidak salah langkah. Namun ternyata, terlalu banyak mengarahkan juga bisa membuat anak merasa tidak dipercaya. Dari situ Manda belajar bahwa membimbing dan mengendalikan adalah dua hal yang berbeda. Membimbing berarti berjalan bersama mereka. Mengendalikan berarti mengambil alih perjalanan mereka.
Sementara mengembalikan kepercayaan diri ini sangat sulit. Di sini Manda juga masih struggling. Jadi tentunya masih learning by doing juga.
Belajar Memberi Respons
Dalam perjalanan parenting, kesalahan lain yang sering terjadi adalah membawa kelelahan orang dewasa ke dalam interaksi dengan anak. Sebagai ibu, ada begitu banyak peran yang dijalani setiap hari. Mengurus rumah, pekerjaan, keluarga, dan berbagai tanggung jawab lainnya yang tentu sering kali menguras energi. Ketika tubuh lelah dan pikiran penuh, kesabaran pun menjadi lebih tipis.
Pada saat-saat seperti itu, terkadang respons yang keluar bukanlah respons terbaik. Mungkin nada bicara menjadi lebih tinggi. Mungkin kita terlalu cepat menegur. Atau mungkin kita kurang hadir saat anak membutuhkan perhatian.
Dulu Manda sering menyalahkan diri sendiri ketika hal itu terjadi. Namun sekarang Manda mencoba melihatnya dengan lebih bijak. Menyadari kesalahan memang penting, tetapi terus-menerus menghukum diri sendiri tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Yang lebih penting adalah berani mengakui kesalahan, meminta maaf saat diperlukan, lalu berusaha memperbaikinya. Belajar memperbaiki respons kita saat berinteraksi dengan anak ternyata berdampak banyak dalam bonding kita dengan mereka.
Belajar Meminta Maaf
Menariknya, saat orang tua meminta maaf kepada anak, kita sebenarnya sedang memberikan contoh yang sangat berharga. Kita menunjukkan bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan. Bahwa orang tua juga manusia yang tidak lepas dari salah. Saat minta maaf, kita juga menunjukkan sikap keberanian dalam mengakui kesalahan adalah bagian dari kedewasaan.
Banyak orang tua khawatir kehilangan wibawa jika meminta maaf kepada anak. Padahal pengalaman Manda justru sebaliknya. Hubungan menjadi lebih hangat karena anak melihat bahwa orang tuanya juga manusia yang terus belajar.
Di sinilah Manda mulai memahami makna sebenarnya dari proses bunda belajar. Belajar ternyata tidak berhenti setelah kita lulus sekolah atau menjadi orang dewasa. Belajar juga tidak berhenti setelah menjadi orang tua. Justru ketika memiliki anak, proses belajar itu terasa semakin nyata dan bisa menantang.
Belajar Pantang Menyerah
Anak-anak sering menjadi cermin yang memperlihatkan sisi diri kita yang mungkin selama ini tidak kita sadari. Mereka mengajarkan kesabaran ketika kita ingin terburu-buru. Mereka mengajarkan keikhlasan ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Mereka bahkan mengajarkan kerendahan hati ketika kita menyadari bahwa kita tidak selalu benar.
Ada hari-hari ketika parenting terasa mudah dan menyenangkan. Namun ada juga hari-hari ketika semuanya terasa rumit. Anak sedang sensitif, orang tua sedang lelah, dan komunikasi tidak berjalan semulus yang diharapkan. Pada momen seperti itulah kita sering merasa gagal.
Padahal jika dipikirkan kembali, mungkin yang sedang terjadi bukan kegagalan. Mungkin itu adalah bagian dari proses bertumbuh. Sama seperti anak yang belajar berjalan dengan jatuh berkali-kali, orang tua juga belajar menjalani parenting melalui berbagai pengalaman, termasuk pengalaman yang tidak sempurna.
Belajar Memaafkan
Semakin bertambah usia anak, Manda semakin percaya bahwa mereka tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka tidak membutuhkan ibu yang selalu memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan. Mereka tidak membutuhkan sosok yang tidak pernah salah.
Yang mereka butuhkan adalah orang tua yang hadir. Orang tua yang mau mendengarkan. Orang tua yang mau belajar. Dan orang tua yang tetap berusaha memperbaiki diri meskipun terkadang melakukan kesalahan.
Hari ini, Manda tidak lagi mengejar kesempurnaan dalam parenting. Fokusnya bukan lagi menjadi ibu yang selalu benar, melainkan menjadi ibu yang terus bertumbuh. Ada hari ketika semuanya berjalan baik, ada juga hari ketika banyak hal terasa berantakan. Namun keduanya sama-sama berharga karena selalu ada pelajaran yang bisa dipetik.
Salah Itu Bagian Dari Pelajaran
Pada akhirnya, kesalahan bukanlah akhir dari perjalanan. Kesalahan adalah bagian dari perjalanan itu sendiri. Setiap kesalahan memberi kesempatan untuk memahami anak dengan lebih baik, memahami diri sendiri dengan lebih jujur, dan membangun hubungan yang lebih kuat sebagai keluarga.
Mungkin itulah salah satu pelajaran ter-powerful dalam menjadi orang tua. Saat kita mendampingi anak bertumbuh, sesungguhnya kita pun sedang bertumbuh bersama mereka. Dan selama hati kita tetap terbuka untuk belajar, selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin. Itulah makna bunda belajar yang sesungguhnya, sebuah perjalanan panjang yang tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mengajak kita untuk terus melangkah dengan penuh cinta, kesabaran, dan optimisme dalam menjalani parenting setiap hari.

Add your comment